EcoEduLab: Belajar Tentang Air dan Satwa di Laboratorium Air Tawar Subayang | WWF Indonesia

EcoEduLab: Belajar Tentang Air dan Satwa di Laboratorium Air Tawar Subayang



Posted on 01 April 2019   |  
Kegiatan EcoEduLab pada Sabtu pagi (09/03) bersama SMPN 4 Kampar Kiri Hulu, Riau di Laboratorium Air Tawar Subayang.
Kegiatan EcoEduLab pada Sabtu pagi (09/03) bersama SMPN 4 Kampar Kiri Hulu, Riau di Laboratorium Air Tawar Subayang.
© WWF-Indonesia/Eka Septayudha
Oleh: Doni Susanto (Education and Water Lab Subayang)
“Halo, sobat! Selamat datang di Laboratorium Air Subayang WWF! Di sini sobat bisa mendapatkan banyak informasi menarik mengenai air, termasuk bereksperimen untuk melakukan pengamatan dan melakukan pengujian kualitas air langsung di Sungai Subayang. Untuk memandu petualangan melakukan tes kualitas air ini, lakukan aktivitas-aktivitas dalam lembar kerja ini dan temukan fakta-fakta menarik,” ujar salah seorang fasilitator Laboratorium Air Tawar Subayang.
 
Hal tersebut menjadi pembuka kegiatan EcoEduLab pada Sabtu pagi (09/03) bersama SMPN 4 Kampar Kiri Hulu, Riau. EcoEduLab merupakan sebuah konsep kegiatan yang ada di Laboratorium Air Tawar Subayang (Waterlab Subayang) yang memadukan antara konsep ekologi dan edukasi. Materi dikemas dengan sangat menyenangkan.

Perjalanan menuju Laboratorium Air Tawar Subayang dimulai dari Desa Koto Lamo kemudian dilanjutkan dengan menaiki “piyau”  (semacam perahu kecil –Red) selama 60 menit.  Selama di atas piyau, para siswa bisa menikmati keindahan lanskap Bukit Rimbang Bukit Baling yang menyejukkan mata ditambah dengan udara pagi yang begitu segar. Tampak sekilas terdengar primata saling bersuara berkomunikasi di antara sesamanya.

Sepanjang perjalanan, para siswa juga bisa mengamati berbagai jenis flora dan fauna yang ada di pinggir sungai. Selain itu, mereka juga bisa melihat secara langsung penggunaan air Sungai Subayang tersebut, misalnya sebagai tempat mencari ikan bagi masyarakat, irigasi, pasokan air minum, tempat rekreasi, dan yang paling penting adalah sebagai sarana transportasi bagi masyarakat yang hidup di kawasan  Rimbang Baling.

Setibanya di Laboratorium Air Subayang, para siswa diajak melihat berbagai infografis yang ada di lantai dasar. Fasilitator menjelaskan tentang fakta-fakta air, siklus air, keanekaragaman hayati kawasan Rimbang Baling, dan kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat Rimbang Baling. Hal  tersebut menjadi faktor penentu ekosistem di Rimbang Baling masih terjaga  dengan baik.

“Dari mana asal air yang kamu gunakan?” tanya fasilitator. Beragam jawaban bermunculan. Ada yang menjawab dari sumur, sungai, dan lainnya.  Kemudian fasilitator menjelaskan mengenai persentase sumber daya air tawar yang kita miliki dan  kondisi sungai di Riau saat ini. Kondisi sungai saat ini sedang terlunta-lunta, 82% sungai di Indonesia dalam kondisi rusak. Berdasarkan data KLHK (2015),  hampir seluruh sungai yang ada di Provinsi Riau berada pada kondisi tercemar berat.

Hal ini tentu saja menumbuhkan kepedulian bagi para siswa yang sedang mengikuti EcoEduLab untuk melakukan upaya-upaya sederhana yang mampu menyelamatkan ekosistem sungai. Sebagai bahan edukasi tentang kualitas air, fasilitator memberikan lembar aktivitas yang memandu petualangan untuk melakukan tes kualitas air dan siswa dapat menemukan fakta-fakta menarik.

Mereka mengamati makhluk hidup yang ada di air yang tak terlihat oleh mata dengan menggunakan mikroskop. Pengujian selanjutnya berupa pengukuran kadar asam dan basa berbagai jenis cairan. Mereka juga melakukan pengusian kualitas air Sungai Subayang. Ternyata air di Sungai Subayang memiliki nilai pH 6,5-7. Farid, salah satu fasilitator menjelaskan, “Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 492/Menkes/Per/IV/2010, air minum ideal mempunyai nilai pH antara 6,5 sampai 8,5”. Kesimpulan dari parameter nilai pH, air  Sungai subayang masih baik untuk dikonsumsi dan digunakan untuk aktivitas sehari-hari.

Selain belajar tentang air dan sungai, siswa juga diajak melihat foto-foto satwa yang ada di kawasan Rimbang Baling. Foto tersebut merupakan hasil dari kamera jebak (camera trap). Para siswa mendapatkan penjelasan tentang fungsi dan cara kerja dari alat tersebut. Eka Septayudha, perwakilan dari tim Wildlife Research and Monitoring menjelaskan, "Camera trap merupakan alat yang digunakan untuk melihat, mengamati, dan meneliti kehidupan satwa liar. Pemasangan alat ini akan  disesuaikan dengan jenis satwa yang akan diamati, seberapa tinggi satwa target tersebut dan di mana area jelajahnya,” jelas Eka. Semua siswa tampak serius mendengarkan informasi yang disampaikan. Hal ini merupakan informasi yang baru bagi para siswa SMPN 4 Kampar Kiri Hulu.

Kegiatan EcoEduLab ditutup dengan pesan untuk menjaga dan menyelamatkan lingkungan. Beberapa tips yang diberikan oleh fasilitator kepada para siswa di antaranya adalah menghemat penggunaan air, tisu dan kertas, serta mengurangi penggunaan kantong plastik dan sedotan yang dapat mencemari sungai. “Ubah gaya hidup menjadi lebih ramah terhadap lingkungan. Mulailah dari hal kecil, mulailah dari diri sendiri, dan mulailah saat ini!” pungkas fasilitator.
Kegiatan EcoEduLab pada Sabtu pagi (09/03) bersama SMPN 4 Kampar Kiri Hulu, Riau di Laboratorium Air Tawar Subayang.
Kegiatan EcoEduLab pada Sabtu pagi (09/03) bersama SMPN 4 Kampar Kiri Hulu, Riau di Laboratorium Air Tawar Subayang.
© WWF-Indonesia/Eka Septayudha Enlarge
Kegiatan EcoEduLab pada Sabtu pagi (09/03) bersama SMPN 4 Kampar Kiri Hulu, Riau di Laboratorium Air Tawar Subayang.
Kegiatan EcoEduLab pada Sabtu pagi (09/03) bersama SMPN 4 Kampar Kiri Hulu, Riau di Laboratorium Air Tawar Subayang.
© WWF-Indonesia/Doni Susanto Enlarge
Kegiatan EcoEduLab pada Sabtu (09/03) bersama SMPN 4 Kampar Kiri Hulu, Riau di Laboratorium Air Tawar Subayang.
Kegiatan EcoEduLab pada Sabtu (09/03) bersama SMPN 4 Kampar Kiri Hulu, Riau di Laboratorium Air Tawar Subayang.
© WWF-Indonesia/Doni Susanto Enlarge
Kegiatan EcoEduLab pada Sabtu (09/03) bersama SMPN 4 Kampar Kiri Hulu, Riau di Laboratorium Air Tawar Subayang.
Kegiatan EcoEduLab pada Sabtu (09/03) bersama SMPN 4 Kampar Kiri Hulu, Riau di Laboratorium Air Tawar Subayang.
© WWF-Indonesia/Doni Susanto Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus