Menjadikan Fundraiser dan Volunteer Sebagai Agent of Change Lingkungan Hidup Terbaik | WWF Indonesia

Menjadikan Fundraiser dan Volunteer Sebagai Agent of Change Lingkungan Hidup Terbaik



Posted on 19 July 2019   |  
Capacity Building Volunteer & Fundraiser 19-21 Juni 2019.
Capacity Building Volunteer & Fundraiser 19-21 Juni 2019.
© WWF-Indonesia
Oleh: Rina Rajagukguk (Fundraiser WWF-Indonesia)
Pada 19-21 Juni 2019 lalu, WWF-Indonesia mengadakan kegiatan capacity building untuk volunteer dan fundraiser di Robinson Resort, Puncak, Jawa Barat. Kali ini, WWF mengusung tema "Agent of Change". Kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan peserta tentang WWF-Indonesia. Panitia telah merancang acara yang menarik untuk peserta. Para  volunteer dan fundraiser pun antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan baik yang berada di dalam maupun luar ruangan.

Salah satu kegiatan yang sangat menarik yaitu trekking. Aktivitas ini diawali dengan pembagian peserta ke dalam beberapa kelompok. Kemudian, setiap grup diberi nama satwa payung yang dilindungi oleh WWF-Indonesia seperti gajah, badak, penyu, orangutan, dan harimau.

[Baca juga: Untuk Garda Terdepan Konservasi yang Lebih Baik]

Sebelum memulai perjalanan, seluruh peserta mendapatkan pengarahan terlebih dahulu. Lalu, panitia membagikan peta perjalanan menuju pos konten yang harus dilalui setiap kelompok. Pos konten yang disiapkan antara lain pos Forest, Ocean, Wildlife, Freshwater, serta Climate & Energy. Setiap kali tiba di pos konten, peserta akan mendapat pengetahuan terkait konservasi serta program kerja yang telah dilakukan oleh WWF-Indonesia.

Dari semua tempat pemberhentian, pos Wildlife adalah yang paling menarik. Pada pos ini, peserta diberikan gambaran kondisi satwa di alam yang merasakan bagaimana penurunan luas habitat sehingga daya jelajahnya semakin sempit. Simulasi ini dipimpin oleh Fundraising Recruitment Coordinator Komar Setiawan. Staf WWF tersebut menginstruksikan peserta untuk berkumpul dalam seutas tali yang dilingkarkan kepada peserta, kemudian setiap orang dimintai pendapat. Semakin lama, lingkaran tali diperkecil sehingga para peserta merasa sempit dan ruang gerak yang terbatas. “Bukan tidak mungkin satwa akan merasa hidupnya tidak aman dan akhirnya mati begitu saja karena tidak ada tempat lagi yang akan dituju,” jelas Komar.

Aktivitas dilanjutkan dengan pengenalan berbagai peralatan yang dibutuhkan untuk bekerja di lapangan oleh Face-to-Face Engagement Officer Saipul Siagian. Ia menyebutkan beberapa peralatan standar yang biasa dibawa ketika sedang monitoring atau pemasangan camera trap di lapangan, antara lain GPS, kompas manual, dan peta topografi.

Berbagai peralatan yang dipamerkan terbilang canggih dan mahal, misalnya kamera untuk monitoring. “Keuntungannya (penggunaan kamera canggih) tentu saja bisa menginformasikan (kejadian) secara langsung hanya dalam satu menit tanpa harus ke lapangan,” jelas Saipul.

Lebih lanjut, Saipul mengatakan bahwa konservasi memang membutuhkan biaya dan sumber daya yang besar. Sebagai contoh, instalasi camera trap di lapangan sebanyak 20 unit kamera saja bisa menghabiskan dana lebih dari Rp100 juta. “Karena membutuhkan moda transportasi seperti speadboad ketika harus melewati sungai, ditambah lagi biaya untuk bensin, akomodasi, dan lain-lain,” kata dia. Tapi, metode camera trap ini bisa mengurangi interaksi antara manusia dan satwa. Dengan begitu, kerja konservasi tetap berjalan tanpa harus mengganggu makhluk hidup di dalam hutan.

Selain pemaparan fungsi alat kerja WWF di lapangan, Saipul juga berbagi pengalaman, serta suka dan duka selama menjalankan kerja konservasi. Ia mengungkapkan kekhawatiran pada nasib badak, satwa yang mudah diajak berteman namun sering dimanfaatkan pemburu.
 
Setelah menjalani rangkaian acara, peserta bisa mengerti pentingnya kerja konservasi di lapangan. Namun, konservasi juga butuh peran serta masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung. “Oleh karena itu, fundraiser serta volunteer itu penting sebagai garda terdepan yang langsung berhadapan dengan publik dalam mengedukasi dan memberikan sosialisasi tentang pentingnya pelestarian alam pada masyarakat luas,” tutur Saipul. Hal ini membuat para peserta tertegun dan meyakinkan diri bahwa fundraiser dan volunteer layak disebut sebagai Agent of Change.
Capacity Building Volunteer & Fundraiser 19-21 Juni 2019.
Capacity Building Volunteer & Fundraiser 19-21 Juni 2019.
© WWF-Indonesia Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus