Menjamin Ketersediaan dan Keberlanjutan Sumber Daya Air | WWF Indonesia

Menjamin Ketersediaan dan Keberlanjutan Sumber Daya Air



Posted on 22 March 2019   |  
WWF-Indonesia dan PT Bank HSBC mengundang berbagai pemangku kepentingan, terutama pelaku bisnis, untuk memulai percakapan yang bermakna tentang pentingnya keberlanjutan air dan kebutuhan untuk mengurangi dampak lingkungan dari sektor produksi yang memerlukan air sebagai bahan baku, guna mendorong perubahan positif di industri bisnis, sambil terus meningkatkan keberlanjutan dan mempromosikan tata kelola air yang baik.
© WWF-Indonesia
Jakarta, 22 Maret 2019 -- Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) Sasaran 6 sangat jelas. Tujuan ini mengunci komitmen dunia untuk memastikan bahwa setiap orang memiliki akses ke air bersih pada tahun 2030 dan termasuk di dalamnya target pelestarian lingkungan hidup dan pengurangan polusi. Ekosistem yang rusak mempengaruhi kuantitas dan kualitas air tawar yang diperlukan untuk konsumsi manusia.

Sayangnya, sungai-sungai di Indonesia, yang penting untuk kegiatan sosial, pertanian, dan industri, berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Data menunjukkan bahwa 82% sungai di Indonesia rusak dan 52 sungai strategis tercemar. Untuk memperingati Hari Air Sedunia 2019, WWF dan HSBC, bersama dengan para pemangku kepentingan terkait, mengadakan diskusi publik di Jakarta untuk membahas Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan yang terkait air. Diskusi menghasilkan kesepakatan bahwa seiring perkembangan pembangunan berkelanjutan, setiap orang tanpa kecuali harus mendapat akses ke air bersih, karena air adalah hak asasi manusia. Dan agar tujuan ini tercapai, semua pemangku kepentingan - baik itu pemerintah, bisnis, masyarakat sipil dan individu, perlu melakukan bagian mereka dan bekerja bersama dalam kemitraan demi keberlanjutan.

WWF-Indonesia dan PT Bank HSBC mengundang berbagai pemangku kepentingan, terutama pelaku bisnis, untuk memulai percakapan yang bermakna tentang pentingnya keberlanjutan air dan kebutuhan untuk mengurangi dampak lingkungan dari sektor produksi yang memerlukan air sebagai bahan baku, guna mendorong perubahan positif di industri bisnis, sambil terus meningkatkan keberlanjutan dan mempromosikan tata kelola air yang baik. Acara ini akan dihadiri oleh perwakilan dari sektor publik (pemerintah nasional dan lokal, lembaga pembangunan, kedutaan negara sahabat), sektor swasta (komunitas bisnis, asosiasi industri air), akademisi dan ormas madani (peneliti dan aktivis lembaga swadaya masyarakat) menghadiri diskusi hari air, yang berlangsung di Hotel Le Meridien pada Jumat (22/03).

Untuk memastikan pengelolaan air yang berkelanjutan, para mitra yang hadir telah sepakat untuk memfokuskan upaya untuk mengurangi degradasi lingkungan dan membalikkan dampak perubahan iklim melalui program konservasi air. Layanan air harus memenuhi kebutuhan semua orang dan keberlanjutan harus menjadi bagian yang terintegrasi dari proses pengambilan keputusan oleh regulator dan sektor swasta. Kerangka kerja pengaturan dan hukum harus mengakui hak atas air untuk semua orang dan pendanaan dari jasa keuangan harus secara efektif ditargetkan pada mereka yang membawa keberlanjutan air ke dalam bisnis mereka. Tema “Bersama Menjaga Air sebagai Sumber Kehidupan”, menjadi yang terdepan dan utama sepanjang diskusi. Tema diskusi yang tegas ini mengarah kepada upaya menjalin kemitraan baru, meningkatkan kerja sama, dan memperkuat kapasitas untuk mengimplementasikan Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan.

“WWF-Indonesia dengan rekam jejaknya di konservasi dan pembangunan berkelanjutan memiliki perhatian besar terhadap ketersediaan dan keberlanjutan air tawar karena air memiliki peran penting bagi kehidupan. Kami memiliki komitmen untuk melaksanakan kegiatan revitalisasi daerah tangkapan air dengan fokus utama di 6 wilayah, DAS Peusangan Aceh, DAS Kampar-Riau Sumatera Barat, DAS Mahakam Kalimantan Timur, DAS Ciliwung Jawa Barat, DAS Rinjani Lombok, dan DAS Bikuma Papua,” jelas Ade Swargo Mulyo, Direktur Partnership WWF-Indonesia. “Sebenarnya solusi sudah tersedia di alam, yang kita sebut solusi berbasiskan alam (SBA). Oleh karenanya, kami mengajak para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya tata kelola air yang bijaksana bagi keberlangsungan bersama manusia dan alam, baik untuk generasi sekarang dan masa mendatang,” lanjut Ade.

Pada tahun 2010, PBB mengakui “hak atas air tawar yang aman dan sanitasi yang bersih sebagai hak asasi manusia.” Namun demikian, sebagian penduduk tidak dapat mengakses air tawar yang aman karena berbagai alasan, status ekonomi dan sosial di antaranya. Faktor penting lainnya adalah degradasi lingkungan, perubahan iklim, meningkatnya permintaan dan buruknya pengelolaan sumber daya alam. Semua ini meningkatkan ancaman terhadap air dan kelangkaan air merupakan masalah utama di banyak bagian dunia, termasuk Indonesia.

Secara global, WWF dan HSBC telah bekerja bersama selama 17 tahun untuk meningkatkan kesehatan sumber air tawar, serta mendukung masyarakat dan alam yang bergantung padanya. Di Indonesia, WWF dan HSBC telah lama berkomitmen untuk menjaga kelestarian air melalui kolaborasi dalam program konservasi air sejak tahun 2016. WWF-Indonesia dan PT Bank HSBC telah melakukan berbagai kegiatan untuk mendukung kegiatan revitalisasi daerah tangkapan air di Rimbang Baling, Riau dan Koto Panjang, Sumatera.

“HSBC menyadari bahwa air memiliki peranan penting dalam menciptakan masyarakat yang sehat dan membangun perekonomian nasional. Namun kami juga sadar bahwa air telah menjadi permasalahan global yang memiliki dampak ekonomi dan perlu diatasi dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Oleh karena itu, secara global HSBC telah menginisiasi Program Air HSBC.” jelas John Rosie, Direktur Operasi dan IT PT HSBC Indonesia.

“Ketersediaan air merupakan masalah kita bersama. Selain masyarakat, sektor swasta juga memiliki peranan penting dalam upaya untuk menjaga air. Bagi sektor swasta, air mempunyai  risiko tetapi sekaligus membuka  peluang. Hari ini kami akan bicara tentang risiko air, dampaknya  pada industri dan kaitannya dengan para pemangku kepentingan , serta  akan menyoroti peluang kerja sama dengan tujuan memperbaiki situasi,” lanjut John.

Pertanian saat ini menyumbang 70% dari pemakaian air secara global, sebagian besar untuk irigasi - angka ini meningkat di daerah-daerah yang memiliki kebutuhan air dan kepadatan penduduk tinggi. Industri mengambil 20% dari total konsumsi air, didominasi oleh energi dan manufaktur. Sisanya 10% digunakan untuk keperluan rumah tangga - proporsi yang digunakan untuk air minum jauh lebih sedikit, kurang dari 1%.

Merestorasi hutan dan lahan basah alami, menyambung kembali sungai ke dataran rendah yang kerap digenangi air, menciptakan penyangga vegetasi di sepanjang aliran sungai - ini semua adalah contoh SBA yang membantu pengelolaan kuantitas dan kualitas air. Sebagian besar SBA, termasuk di lanskap perkotaan, pada dasarnya melibatkan pengelolaan vegetasi, tanah dan/atau lahan basah, termasuk sungai dan danau. Namun SBA bukan obat mujarab untuk tantangan terkait krisis air yang kita hadapi akibat tumbuhnya populasi global, tetapi mereka dapat memberikan pilihan yang inovatif dan hemat biaya untuk menambah infrastruktur air yang tidak mencukupi atau mulai menua.

“Pada 2019, sekitar 700 juta orang di 43 negara di seluruh dunia masih menderita kelangkaan air, dan banyak lagi yang masih hidup tanpa air tawar yang aman dan mencukupi – di rumah tangga, sekolah, tempat kerja, pertanian, dan pabrik. Kita perlu mengeksplorasi solusi berbasis alam, untuk masalah air kontemporer. Beberapa di antaranya bisa termasuk menanam pohon dan meningkatkan tutupan hutan, menyambung kembali sungai ke dataran rendah yang kerap tergenang air, dan memulihkan lahan basah untuk menyeimbangkan siklus air. Diskusi ini menyediakan ruang untuk berbagi informasi dan berjejaring bagi para pemangku kepentingan yang tertarik untuk menerapkan pengelolaan air bersih,” pungkas Ade.

                                                                 ***

Catatan untuk Editor:
Kaitan antara Solusi Berbasis Alam (SBA) dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB). SBA untuk mengelola pasokan dan kualitas air, mendukung pencapaian semua target dalam Sasaran 6: untuk memastikan ketersediaan dan pengelolaan air dan sanitasi yang berkelanjutan untuk semua. SBA juga berperan dalam pencapaian sasaran Tujuan Pembangunan Berkelanjutan lainnya, sebagai berikut:

• Sasaran 1: Tidak ada kemiskinan, Sasaran 2: Nol kelaparan, Sasaran 3: Kesehatan yang baik: Pekerjaan baru kerap tercipta oleh SBA, dan peningkatan kesehatan dari air yang berkualitas lebih baik berarti produktivitas yang lebih tinggi.

• Sasaran 7: Energi bersih dan terjangkau, Sasaran 9: Industri, inovasi dan infrastruktur, Sasaran 11: Kota dan masyarakat yang berkelanjutan, Sasaran 12: Konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab: SBA memerlukan sedikit atau tanpa energi sehingga dapat mengurangi ketergantungan pada sistem yang rakus konsumsi energi. SBA ini juga membantu menyediakan sumber daya air yang lebih berkelanjutan untuk melayani pemukiman yang terus tumbuh.

• Sasaran 14: Kehidupan di bawah air, Sasaran 15: Kehidupan di darat: Lahan basah dapat mengurangi polusi melalui penyaringan dan meningkatkan keanekaragaman hayati dengan memperluas habitat alami.

- Melalui Program Air HSBC, ada fokus langsung untuk menangani SDG Goal 6; Memastikan akses ke air dan sanitasi untuk semua, namun keterkaitan dan sifat SDGs yang terintegrasi sangat penting dalam memastikan bahwa Keberlanjutan Global terwujud. Ada saling ketergantungan yang dinamis dan dua arah antara sasaran 6 dan sasaran lainnya.

- Program Air HSBC bertujuan mengurangi dampak perubahan iklim terhadap manusia, hutan, air tawar dan kota-kota dan untuk mempercepat penerapan kebijakan rendah karbon.

Untuk Informasi lebih lanjut, silakan menghubungi :
  •  Alina S. Pranoto ,Communications | PT Bank HSBC Indonesia
            Email : alinasukmayanipranoto@hsbc.co.id | Phone.+62 21 30405389 I Mobile: +6285814717287
  • Karina Lestiarsi, Media Relation Specialist | WWF-Indonesia
           Email : klestiarsi@wwf.id | Phone. +62 21 7829461 I Mobile: +62 852 181 616 83



 
WWF-Indonesia dan PT Bank HSBC mengundang berbagai pemangku kepentingan, terutama pelaku bisnis, untuk memulai percakapan yang bermakna tentang pentingnya keberlanjutan air dan kebutuhan untuk mengurangi dampak lingkungan dari sektor produksi yang memerlukan air sebagai bahan baku, guna mendorong perubahan positif di industri bisnis, sambil terus meningkatkan keberlanjutan dan mempromosikan tata kelola air yang baik.
© WWF-Indonesia Enlarge
Acara ini dihadiri oleh perwakilan dari sektor publik (pemerintah nasional dan lokal, lembaga pembangunan, kedutaan negara sahabat), sektor swasta (komunitas bisnis, asosiasi industri air), akademisi dan ormas madani (peneliti dan aktivis lembaga swadaya masyarakat) menghadiri diskusi hari air, yang berlangsung di Hotel Le Meridien pada Jumat (22/03).
© WWF-Indonesia Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus