Dulu Memburu, Kini Melindungi | WWF Indonesia

Dulu Memburu, Kini Melindungi



Posted on 11 April 2019   |  
Kang Oma adalah seorang pemuda yang hidup di Kampung Cegog, Desa Racapinang.
© WWF-Indonesia
Oleh: Kania Dewi Rahayu


Merubah suatu kebiasaan bukanlah hal yang mudah. Merubah sikap juga bukanlah hal yang mudah. Begitu juga hal yang dialami oleh Kang Oma, salah satu pemandu sekolah lapangan dari Kampung Cegog, Desa Rancapinang, Banten. Kang oma sudah pernah mengalami itu semua, bagaimana sulitnya menerima kebiasaan baru dan menerima perubahan sikap diri.

Kang Oma adalah seorang pemuda yang hidup di Kampung Cegog, Desa Racapinang. Desa Rancapinang merupakan salah satu desa penyangga Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). Sejak muda, Kang Oma sudah mulai bertani dan berternak kerbau untuk membantu orang tuanya. Lahan pertanian yang dimiliki oleh keluarga Kang Oma berada dekat sekali dengan kawasan Taman Nasional Ujung Kulon. Kang Oma dan keluarga memang sejak dahulu jarang sekali menggunakan pupuk dan pestisida buatan dalam pengelolaan lahan pertanian milik keluarga mereka, walaupun memakai pupuk dan pestisida buatan, mereka hanya menggunakan dalam jumlah yang kecil. Pupuk buatan yang sering mereka gunakan yaitu pupuk urea sekitar 1 kwintal untuk luasan lahan sebesar 3700 m2.

Pada tahun 2017, WWF Indonesia, Ujung Kulon Project memulai kegiatan Sekolah Lapang Pertanian Ekologis (SLPE) di Kampung Cegog. Saat itu belum banyak masyarakat yang mengerti dan paham mengenai sistem pertanian berbasis ekologis. Termasuk Kang Oma. Namun, Kang Oma tertarik sekali untuk belajar mengenai sistem pertanian ekologis ini. Akhirnya Kang Oma pun mengikuti kegiatan tersebut mulai dari proses sosialisasi, pemilihan peserta hingga resmi menjadi peserta SLPE yang difasilitasi oleh Kang Fajri dari WWF Indonesia, Ujung Kulon Project.

Jalan yang ditempuh Kang Oma untuk dapat menerapkan sistem yang baru ini tidak lah mudah. Keluarga Kang Oma terutama sang ibu sempat meledek Kang Oma bahwa dengan sistem berbasis ekologis ini, hasilnya pasti tidak akan bagus sebab menurut mereka tanpa pestisida kimia benih padi tidak akan kuat menahan serangan hama dan tanpa pupuk buatan, tanaman padi tidak akan cepat tumbuh dan menghasilkan bulir yang baik.

Memang, saat awal penanaman, jumlah produksi padi Kang Oma sedikit mengalami penurunan namun Kang Oma tidak kecewa dan putus asa Hal baik pun terjadi saat musim puso, lahan sawah yang dapat bertahan hanyalah lahan persawahan yang sudah menerapkan sistem pertanian ekologis.

Lambat laun hasil padi ekologis Kang Oma pun mengalami peningkatan. Selain dari jumlah produksi yang meningkat, dengan menerapkan sistem ekologis, Kang Oma pun dapat menekan biaya produksi. Dengan menggunakan pestisida nabati dan pupuk alami seperti kompos dan pupuk kendang yang diracik bersama-sama saat kegiatan SLPE,  Kang Oma dapat menghemat biaya produksi dan modal tani. Melimpahnya beras yang dihasilkan ,Kang Oma yang baik hati ini berinisitaif untuk tidak menjual beras organik yang dia hasilkan. Kang Oma memutuskan untuk membaginya ke tetangganya yang ada di Kampung Cegog. Dahulu keluarganya yang tidak mendukung sistem pertanian yang diterapkan Kang Oma kini lambat laun mulai mengakui keunggulan sistem pertaian ekologis dan kini mereka pun tidak lagi menggunakan pestisida kimia dan pupuk buatan. Tetangga Kang Oma pun mulai tertarik untuk menerapkan sistem yang sama di lahan pertanian mereka.

Kini, Kang Oma aktif menjadi ketua kelompok SLPE dan sekitar akhir tahun 2018 saat WWF Indonesia, Ujung Kulon Project memulai kegiatan Sekolah Lapangan Pengelolaan Ternak Kerbau (SLPTK) di Kampung Cegog, Kang Oma yang memang sedari dulu sudah berternak kerbau pun langsung semangat mengikuti kegiatan SPTK tersebut. Dahulu, sebelum Kang  Oma ikut terlibat aktif dalam kegiatan SLPE dan SLPTK, Kang Oma bersama dengan warga lainnya yang hidup di sekitar kawasan penyangga TNUK tidak mengetahui apa saja yang boleh dan apa saja yang tidak boleh dilakukan di dalam Kawasan Taman Nasional. Kang Oma bersama dengan kawan-kawannya sering kali melakukan kegiatan perburuan di dalam Kawasan TNUK seperti berburu babi, burung, dan bajing. Mereka melakukan perburuan satwa tersebut untuk dikonsumsi dan sebagai hiburan.

Setelah Kang Oma disibukkan dengan kegiatan sekolah lapangan bersama warga Kampung Cegog lainnya, selain Kang Oma menjadi memiliki kesibukan baru sehingga dia tida ingat lagi untuk berburu, Kang Oma pun kini paham pentingnya menjaga Kawasan TNUK. Tentu saja, kegemaran Kang Oma untuk berburu di dalam Kawasan tidak begitu saja berhenti total. Beliau membutuhkan beberapa saat untuk secara perlahan menghentikan kebiasaan tidak baik tersebut seiring dengan bertumbuhnya pemahaman Kang Oma mengenai pentingnya menjaga kelestarian alam. Dengan Pendidikan orang dewasa yang diterapkan oleh sekolah lapangan, membuat pesertanya termasuk Kang Oma mengalami dan mencari tahu sendiri sehingga ilmu dan pemahaman yang mereka peroleh dari hasil berpikir dan menemukan sendiri itu lah yang benar-benar tertanam dalam benak dan pikiran mereka.

Kini, Kang Oma tidak hanya menjadi pelaku saja untuk sistem pertanian berbasis ekologis namun kini Kang Oma beserta kawan lainnya pun menjadi pemandu sekolah lapangan yang tanpa Lelah mengajak warga desanya untuk dapat menerapkan pertanian ekologis dan juga tidak lupa untuk mengingatkan warga desanya betapa pentingnya menjaga keseimbangan dan kelestarian Kawasan Penyangga Taman Nasional Ujung Kulon. Kang Oma yang dulunya pemalu dan pasif kini menjadi berani untuk menemukakan pendapat dan pengalamannya kepada warga desa nya. Saat ini, Kang Oma juga aktif sebagai salah satu penggerak di Desa Rancapinang untuk mengajak warga Desa dalam melakukan kegiatan yang positif dan tidak merusak.

Kang Oma telah mengerti dengan menjaga Kawasan, mereka tidak hanya menjaga flora dan faunanya saja tapi mereka juga turut menjaga keseimbangan ekosistem di desanya. Semoga di masa yang akan datang dapat muncul Kang Oma-Oma lainnya yang sangat bersemangat dalam menyebarkan syiar konservasi.
Kang Oma adalah seorang pemuda yang hidup di Kampung Cegog, Desa Racapinang.
© WWF-Indonesia Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus