Ngabuburit dengan Pemutaran Film Dokumenter Our Planet-Coastal Seas | WWF Indonesia

Ngabuburit dengan Pemutaran Film Dokumenter Our Planet-Coastal Seas



Posted on 15 May 2019   |  
Indonesia sekitar 70% ditutupi oleh lautan dan 30 % berupa daratan. Itu juga yang membuat ikan sebagai sumber protein termurah dan termudah di negara ini, seperti yang diutarakan oleh Susi Pudjiastuti.
© WWF-Indonesia/Dissy Ekapramudita
Oleh: Jelfi

WWF-Indonesia kembali  mengadakan  pemutaran  film Our Planet, kali ini  bekerja sama dengan  Kompas Gramedia, dan Harian Kompas yang diselenggarakan di  Bentara Budaya Jakarta, Selasa 14 Mei 2019.  Our Planet merupakan  film dokumenter  alam pertama yang  digarap oleh  Netflix  bekerja sama dengan  WWF, diproduksi  oleh Silverback Film dan  dinarasikan oleh David Attenborough. Our Planet terdiri  dari  8 seri dengan melibatkan  lebih dari  600 kru film, pengambilan gambar dilakukan di 50 negara dan membutuhkan sekitar  4 tahun dalam proses produksinya.

Pada kesempatan kali ini seri film  dokumenter Our planet-Coastal Seas disuguhkan untuk ditonton bersama sembari diikuti dengan sesi diskusi yang cukup hangat bersama tamu istimewa yaitu Menteri Kelautan dan Perikanan Susi  Pudjiastuti,  didampingi oleh CEO WWF-Indonesia Rizal Malik, dan Pimred Harian KOMPAS Ninuk Mardiana Pambudy.

Acara ini diselenggarakan sebagai upaya meningkatkan kesadaran publik mengenai isu kelautan. Sebagaimana diketahui bersama wilayah Indonesia sekitar 70% ditutupi oleh lautan dan 30 % berupa daratan. Itu juga yang membuat ikan sebagai sumber protein termurah dan termudah di negara ini, seperti yang diutarakan oleh Susi Pudjiastuti. Akan tetapi praktik penangkapan ilegal dan regulasi yang tidak memadai telah mencederai sumber daya laut yang ada.

Adanya payung hukum dan penindakan hukum yang tegas atas pelanggaran praktik penangkapan ilegal telah dilakukan untuk menjaga sumber daya perikanan. Selama ini budaya ekstraktif yang tidak bertanggung jawab merupakan penyebab  utama berkurangnya sumber daya alam yang melimpah.  Konservasi sejatinya adalah jalan yang harus ditempuh untuk  peningkatan produktivitas, begitulah pesan Susi Pudjiastuti.

Rizal Malik dalam kesempatan ini menukil secara singkat hasil Living Planet Report  2018 bahwa sekitar 60%  populasi spesies vertebrata telah berkurang dalam kurun waktu sekitar 40 tahun.  Hal ini salah satunya disebabkan oleh rusaknya habitat spesies yang kebanyakan merupakan akibat dari aktivitas manusia seperti adanya konversi lahan dan industri ekstraktif yang tidak berkelanjutan.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Rizal Malik menekankan perlunya adanya perubahan  gaya  hidup masyarakat. Seluruh pihak yang terlibat baik nasional dan internasional perlu menentukan target baru dengan hasil yang terukur dan dampak yang langsung dapat dirasakan guna mencegah tren  penurunan keanekaragaman hayati yang ada. Sehingga manusia dapat hidup berdampingan selaras alam.

Tapi harapan tidaklah pupus, seperti yang secara visual dengan sangat indah ditayangkan dalam seri Our Planet-Coastal Seas, Raja Ampat merupakan salah satu contoh sukses perlindungan terhadap kawasan perairan laut yang telah pulih. Sejak ditetapkan sebagai kawasan yang dilindungi  pada tahun 2007,  Raja Ampat saat ini menjadi kawasan pembibitan bagi anak-anak hiu, jumlah hiu  menjadi 25 kali lebih banyak dan jumlah ikan pun bertambah 3 kali lipat dibanding satu dekade yang lalu.

Hal ini membuktikan  bahwa jika dilindungi dan diberi waktu, laut memiliki kemampuan memulihkan diri yang sangat cepat dan alami yang pada akhirnya dapat menyediakan sumber daya pangan yang sangat melimpah bagi manusia. Kegiatan ini kemudian ditutup dengan buka bersama, yang pasti peserta yang hadir bertambah wawasannya tentang pentingnya konservasi sebagai upaya untuk kelestarian alam yang pada akhirnya dapat menjamin hajat hidup manusia.  


 
Indonesia sekitar 70% ditutupi oleh lautan dan 30 % berupa daratan. Itu juga yang membuat ikan sebagai sumber protein termurah dan termudah di negara ini, seperti yang diutarakan oleh Susi Pudjiastuti.
© WWF-Indonesia/Dissy Ekapramudita Enlarge
Rizal Malik dalam kesempatan ini menukil secara singkat hasil Living Planet Report 2018 bahwa sekitar 60% populasi spesies vertebrata telah berkurang dalam kurun waktu sekitar 40 tahun.
© WWF-Indonesia/Dissy Ekapramudita Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus