Konservasi Cenderawasih untuk Alam Papua | WWF Indonesia

Konservasi Cenderawasih untuk Alam Papua



Posted on 08 June 2017   |  
Burung Cendrawasih yang ditemui saat tim survey melakukan pengamatan langsung di kawasan sekitar TN Wasur, Papua
© WWF-Indonesia
Jayapura (8/6) - Tahun ini perayaan Hari Lingkungan Hidup Sedunia mengambil tema “Connecting People to Nature.” Melalui tema tersebut, perayaan Hari Lingkungan Hidup mengajak semua orang di seluruh dunia untuk kembali beramai-ramai menikmati indahnya alam dan kekayaannya sekaligusnya melakukan refleksi diri akan pentingnya nilai dari sumber daya alam tersebut.

Lebih lanjut, perayaan Hari Lingkungan Hidup Sedunia juga menundang kita untuk memikirkan tentang bagaimana kita sebagai manusia menjadi bagian dari alam dan bagaimana kita bergantung dengan alam. Hal tersebut sekaligus menjadi tantangan untuk kita kemudian menemukan cara yang menyenangkan dan menarik untuk lebih mendapatkan pengalaman dan menghargai hubungan penting kita dengan alam.

Untuk ikut merayakan  Hari Lingkungan Hidup Sedunia, WWF Indonesia, Program Papua berkerjasama dengan Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLH) Provinsi Papua akan menyelenggarakan kegiatan Promosi Pengembangan Ekowisata Bird Watching dan Konservasi Cenderawasih di Papua. Kegiatan akan dilaksanakan pada tanggal 9 Juni 2017, di Kampung Rhepang Muaif, Distrik Nimbokrang, Kabupaten Jayapura.

Kampung Rhepang Muaif dipilih sebagai lokasi kegiatan seremoni dikarenakan kampung ini akan diresmikan sebagai salah satu dari lima kampung yang dipromosikan sebagai tempat (spot) ekowisata burung cenderawasih di Provinsi Papua.  Lokasi yang lainnya yaitu; Kampung Amai di Kabupaten Jayapura serta Kampung Berawai, Poom dan Sawendui di Kabupaten Kepulauan Yapen.

Peter Roki Aloisius selaku Northern New Guinea Leader, WWF Indonesia – Papua Program menjelaskan, “momentum peringatan hari lingkungan hidup sedunia ini, kita mengajak masyarakat untuk menyatu dan menghargai nilai penting sumber daya alam. Untuk di Papua, kalau kita bicara tentang alam maka tidak jauh dari hutan dan ikon biodiversity Papua, yaitu burung cenderawasih.”

Hal lain yang menjadi agenda utama kegiatan ini adalah kampanye konservasi cenderawasih oleh Pemerintah Provinsi Papua.  Gubernur Papua akan memberikan pernyataan untuk larangan perburuan dan penggunaan burung cenderawasih asli sebagai aksesoris dan cinderamata oleh Gubernur Papua. Saat ini Pemerintah Provinsi Papua sedang menyusun peraturan resminya.

Untuk menekan jumlah perburuan cenderawasih dan pengggunaan burung cenderawasih asli untuk aksesoris dan cinderamata, diperlukan solusi yang pro konservasi sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. “Pengembangkan ekowisata pemantauan burung cenderawasih dan pembuatan kerajinan aksesoris dan cinderamata imitasi burung cenderawasih merupakan solusi yang dapat dilakukan oleh masyarakat. Keduanya sudah pasti mendukung upaya konservasi dan juga merupakan bentuk usaha ekonomi kreatif yang memberikan manfaat ekonomi,” tambah Roki.

Sebagai bentuk harapan bersama,  dengan mengenalkan konservasi cenderawasih melalui ekowisata pemantauan burung, masyarakat dapat berinteraksi dan mendapatkan pengalaman langsung melihat bentuk dan mendengar suara burung cenderawasih. Masyarakat akan mendapatkan pemahaman bahwa burung cenderawasih merupakan ikon keanekaragaman hayati Papua. Yang tidak kalah penting adalah adanya pemahaman akan nilai penting keberadaan hutan. Jika hutan tetap ada dan dikelola secara lestari maka cenderawasih juga tetap ada.

Singkat kata, mari jaga hutan dan cenderawasih untuk kekayaan alam Papua!
                                   
                                                                               -0-

Untuk informasi lebih lanjut silahkan menghubungi:
Piter Roki Aloisius – Northern New Guinea Leader, WWF Indonesia – Papua Program
(HP: 0812-4841-8590, E-mail: raloisius@wwf.id )
Burung Cendrawasih yang ditemui saat tim survey melakukan pengamatan langsung di kawasan sekitar TN Wasur, Papua
© WWF-Indonesia Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus