Perspektif Lain di Balik Kemunculan Hiu Paus di Gorontalo | WWF Indonesia

Perspektif Lain di Balik Kemunculan Hiu Paus di Gorontalo



Posted on 29 August 2017   |  
Hiu paus yang berada di perairan Gorontalo terekam kamera salah seorang peneliti saat melakukan pengamatan
© Mahardika Rizqi Himawan/Whale Shark Indonesia
Oleh: Casandra Tania (Marine Species Officer  WWF-Indonesia) dan Mahardika Rizqi H (Project Leader, Whale Shark Indonesia)

Riset yang dilakukan sejak April - November 2016 mengidentifikasi 19 individu hiu paus yang mendatangi Desa Botubarani, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo. Seluruh individu teridentifikasi berjenis kelamin jantan dengan panjang total antara 3 - 7 meter. Menganalisa pola kemunculan hiu paus di Gorontalo tidaklah mudah. Anggapan pemberian makan yang dilakukan wisatawan serta aktivitas pabrik udang mempengaruhi kemunculan hiu paus perlu dipelajari lebih lanjut.

Kemunculan hiu paus menjadi viral di media sosial sejak Maret 2016 setelah beberapa wisatawan memamerkan aktivitas wisatanya. Namun, hiu paus menghilang dari perairan Gorontalo pada pertengahan Agustus 2016. Tidak ada perubahan secara signifikan akan jumlah total kulit dan kepala udang yang dibuang. Kemana hiu paus pergi? Adanya kelimpahan makanan di daerah lain diduga menjadi alasan hiu paus untuk pergi meninggalkan Botubarani.

Pada awal Oktober 2016 hiu paus kembali muncul. Indikasi perilaku hiu paus kembali ke Gorontalo teranalisa melalui salah satu individu yang pernah datang sebelumnya. Rentang waktu kepergian yang tidak terlalu lama menandakan hiu paus tidak berenang terlalu jauh dari perairan Gorontalo. Selang ketidakmunculan hiu paus, masyarakat sekitar tetap membuang kulit dan kepala udang dengan harapan hiu paus kembali lagi.

Kembalinya hiu paus tersebut memunculkan praduga bahwa akan ada individu lain yang akan datang lagi. Riset menggunakan teknologi sinyal akustik dipersiapkan guna mengamati aktivitas yang dilakukan hiu paus. Terdapat dua komponen penting dari metode riset ini, yaitu acoustic receiver dan acoustic transmitter. Secara sederhana, kedua alat tersebut berfungsi seperti absensi kehadiran hiu paus. Acoustic transmitter dipasang di bawah sirip punggung hiu paus dengan cara menancapkannya menggunakan tombak. Cara dan lokasi pemasangan telah dipelajari guna meminimalisir dampak buruk pada hiu paus. Acoustic transmitter akan memancarkan sinyal kode unik yang akan diterima oleh acoustic receiver.

Acoustic receiver dipasang di dasar perairan  pada kedalaman 15 meter untuk menghindari gangguan aktivitas manusia di permukaan. Hiu paus dengan acoustic transmitter di tubuhnya akan terdeteksi oleh acoustic receiver 800 meter. Tanpa terlihat dari permukaan, hiu paus yang masuk ke Botubarani akan diketahui melalui metode ini. Studi kasus Botubarani menggunakan metode sinyal akustik dirasa tepat karena titik kemunculan hiu paus telah diketahui.

Benar saja, kemunculan hiu paus kembali terjadi pada awal November 2016. Tiga dari empat individu yang muncul pernah mendatangi Botubarani pada rentang waktu Maret - Agustus 2016, namun tidak muncul pada Oktober 2016. Seluruh individu yang muncul kemudian berhasil dipasang acoustic transmitter. Setelah 9 hari pengamatan, data menunjukkan bahwa hiu paus berada di wilayah perairan Botubarani lebih dari 18 jam. Ini menandakan pada malam hari, tanpa adanya aktivitas pemberian makan, hiu paus tetap tinggal di Botubarani. Bahkan, terdapat satu individu yang berada di Botubarani selama 24 jam. Perilaku ini memunculkan kembali dugaan bahwa hiu paus menunggu udang yang dibuang ke perairan keesokan harinya. Kemudian, setelah hampir dua minggu bertahan hiu paus lalu meninggalkan Botubarani dan tidak lagi terdeteksi acoustic receiver.

Kuat dugaan, hiu paus akan kembali lagi ke Botubarani di waktu mendatang. Faktor adanya kelimpahan makanan di perairan lain masih menjadi alasan hiu paus tidak kembali muncul di Botubarani. Penelitian yang diinisiasi oleh Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Makassar didampingi Whale Shark Indonesia bersama WWF-Indonesia, masih dilakukan hingga saat ini untuk mengetahui perilaku pasti hiu paus tersebut. Pendekatan dinamika kelimpahan plankton di permukaan perairan dan penelusuran kemunculan hiu paus juga dilakukan di Teluk Tomini. Fungsi perairan Pantai Botubarani untuk hiu paus selanjutnya dapat dipahami melalui hasil-hasil penelitian tersebut. Hingga saat ini, Botubarani sebagai pintu gerbang keluar masuknya hiu paus ke Teluk Tomini masih menjadi dugaan yang rasional.

Hiu paus yang berada di perairan Gorontalo terekam kamera salah seorang peneliti saat melakukan pengamatan
© Mahardika Rizqi Himawan/Whale Shark Indonesia Enlarge
Aktivitas penelitian dalam pengamatan hiu paus di perairan Gorontalo
© Mahardika Rizqi Himawan/Whale Shark Indonesia Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus