Wanita Telinga Panjang Terakhir | WWF Indonesia

Wanita Telinga Panjang Terakhir



Posted on 27 November 2018   |  
Ari Wibowo, Long Tuyoq, Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, Heart of Borneo, telinga panjang, dayak, kuping panjang
Kebanyakan wanita berusia senja yang ada di Kampung Long Tuyoq masih menjalankan tradisi bertelinga panjang ini, yang dalam bahasa lokal biasa disebut dengan telingaan aruuk.
© WWF-Indonesia/Ari Wibowo
Oleh: Ari Wibowo, Community Organizer di Kutai Barat, Kalimantan Timur, WWF-Indonesia
Editor: Arum Kinasih, WWF HoB Communication Assistant


Bagi masyarakat Dayak di hulu Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, tradisi dan budaya masih melekat dalam keseharian mereka guna meneruskan tradisi leluhur nenek moyang ketika menjalani kehidupan di dunia. Dimulai dari tata cara mengelola lahan dengan ritualnya karena kepercayaan adanya roh di khayangan yang selalu mengawasi kehidupan mereka. 

Budaya bagi wanita Dayak termasuk kepercayaan dalam hal mempercantik diri. Mereka melakukannya dengan tato dan telinga panjang. Di Kabupaten Mahakam Ulu, masih banyak dijumpai wanita bertelinga panjang dengan anting ring perak atau besi yang menjuntai hingga ke bahu.

Bagi masyarakat Dayak Bahau, khususnya Suku Bahau Long Gelaat di Kampung Long Tuyoq, sebuah area yang terletak jauh di pedalaman Jantung Borneo di wilayah Kalimantan Timur, kebanyakan wanita berusia senja yang ada disana masih menjalankan tradisi bertelinga panjang ini, yang dalam bahasa lokal biasa disebut dengan telingaan aruuk

Pada zaman dulu, wanita yang memiliki telinga panjang dianggap sebagai wanita yang sesungguhnya dan yang tercantik oleh masyarakat di kampung mereka. Proses tindik telinga sudah dimulai sejak kecil. Ketika seorang anak perempuan berumur ± 4 tahun, telinga mereka akan dilobangi (dalam bahasa lokal disebut subang) untuk dibuat bekas tindikan dan agar secara perlahan menjadi terbiasa untuk dipasang hisang, yang merupakan jenis anting untuk memanjangkan telinga. 

Semakin bertambahnya umur diikuti dengan bertambahnya jumlah hisang. Bila wanita tersebut sudah menikah, total hisang akan berjumlah sekitar 20 buah pada masing-masing telinga, tergantung status sosial masyarakatnya. Hisang sendiri terbuat dari bahan perak atau perunggu yang juga disesuaikan dengan status sosial mereka. Semakin panjang telinga mereka, semakin tinggi pula status sosialnya.

Ada juga anggapan yang mengatakan bahwa tujuan bertelinga panjang bukanlah untuk menunjukkan status kebangsawanan, namun justru untuk melatih kesabaran. Jika dipakai setiap hari, kesabaran dan kesanggupan menahan derita akan beratnya hisang yang dipakai akan semakin kuat.

Walaupun bertelinga panjang, hal tersebut tidak mengganggu wanita Suku Dayak Bahau dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, baik itu berladang, membuka lahan, menaiki perahu, memberi makan ternak hingga membuat kerajinan tangan.

Apakah mereka kesakitan saat menggunakan logam berat di telinga mereka? Tidak. Para wanita tersebut justru bangga dengan kebudayaan yang mereka miliki. Bagi mereka telinga panjang merupakan sebuah identitas, simbol keagungan, tanda kebangsawanan dan cermin kecantikan. Identitas wanita untuk dapat dihargai sebagai wanita dilihat dari seberapa panjang telinga mereka. 

Hingga saat ini, walaupun kebanyakan wanita bertelinga panjang sudah memasuki usia senja (boo’doh-nenek), mereka tetap dapat dijumpai sembari membuat kerajinan seraung (topi dari daun pandan) ataupun anyaman rotan.

Sayangnya, wanita bertelinga panjang saat ini sudah memasuki generasi terakhir pada zamannya. Kebanyakan dari mereka yang lahir di era tahun 60an sudah tidak lagi mengikuti tradisi memanjangkan telinga karena dianggap ketinggalan zaman.  

Tradisi leluhur yang dulu dianggap agung itu berada di ambang kepunahan karena hadirnya era modernisasi yang menganggap untuk menjadi wanita sesungguhnya tak perlu lagi memanjangkan telinga. Saat ini, di Kampung Long Tuyoq, wanita bertelinga panjang tak lebih dari 7 orang dan semuanya sudah berusia lanjut. 

Walaupun tidak semua sub-suku Dayak mempunyai tradisi tersebut, jika kita berkunjung ke kampung hulu Sungai Mahakam, sampai beberapa tahun kedepan kita masih bisa menemui wanita bertelinga panjang, baik dari Suku Penihing, Suku Kayan, Suku Bahau maupun Suku Kenyah.

Zaman memang telah berubah, peradaban dengan cepat berganti rupa. Pendokumentasian dan pencatatan cerita sejarah menjadi sangat penting. Tradisi dan budaya ini perlu diketahui oleh generasi mendatang. 
Ari Wibowo, Long Tuyoq, Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, Heart of Borneo, telinga panjang, dayak, kuping panjang
Kebanyakan wanita berusia senja yang ada di Kampung Long Tuyoq masih menjalankan tradisi bertelinga panjang ini, yang dalam bahasa lokal biasa disebut dengan telingaan aruuk.
© WWF-Indonesia/Ari Wibowo Enlarge
Ari Wibowo, Long Tuyoq, Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, Heart of Borneo, Dayak, Kuping panjang, telinga panjang, nek lung
Hingga saat ini, walaupun kebanyakan wanita bertelinga panjang sudah memasuki usia senja (boo’doh-nenek), mereka tetap dapat dijumpai sembari membuat kerajinan seraung (topi dari daun jenis pandan) ataupun anyaman rotan.
© WWF-Indonesia/Ari Wibowo Enlarge
Sugeng Hendratno, Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, Heart of Borneo, Dayak, perempuan dayak, kuping panjang
Pada zaman dulu, wanita yang memiliki telinga panjang dianggap sebagai wanita yang sesungguhnya dan yang tercantik oleh masyarakat di kampung mereka.
© WWF-Indonesia/Sugeng Hendratno Enlarge
Ari Wibowo, Long Tuyoq, Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, Heart of Borneo, HoB, kuping panjang, dayak, telinga panjang
Ada juga anggapan yang mengatakan bahwa tujuan bertelinga panjang bukanlah untuk menunjukkan status kebangsawanan, namun justru untuk melatih kesabaran.
© WWF-Indonesia/Ari Wibowo Enlarge
Gemma Davin, East Kalimantan, Mahakam Ulu, Heart of Borneo, WWF Indonesia, HoB
Semakin bertambahnya umur diikuti dengan bertambahnya jumlah hisang. Bila wanita tersebut sudah menikah, total hisang akan berjumlah sekitar 20 buah pada masing-masing telinga, tergantung status sosial masyarakatnya.
© WWF-Indonesia/Gemma Davin Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus