Merasakan Langsung Kehidupan Harimau Sumatera | WWF Indonesia

Merasakan Langsung Kehidupan Harimau Sumatera



Posted on 26 November 2018   |  
Dua pemain bola Australia, Nick Vlastuin dan Jack Graham dari Richmond Tiger sengaja bertandang ke bentang alam Bukit Rimbang Bukit Baling di Riau.
© WWF-Indonesia
Oleh: Syamsidar
Dua pemain bola Australia, Nick Vlastuin dan Jack Graham dari Richmond Tiger sengaja bertandang ke bentang alam Bukit Rimbang Bukit Baling di Riau. Empat hari  mereka belajar langsung tentang konservasi Harimau Sumatera dari tim BBKSDA Riau dan WWF Program Sumatera Tengah di habitat harimau tersebut.

Hari pertama (23 November), perjalanan dimulai dengan berkunjung ke kantor BBKSDA Riau. Di sini kedua pemain bola yang menjadi bintang di negaranya itu mendapat penjelasan tentang penyelamatan seekor harimau jantan yang terjebak di kolong ruko di Pulau Burung, Indragiri Hilir. Suharyono. SH,MH, Kepala BBKSDA Riau  menjelaskan  sulitnya proses penyelamatan seekor harimau jantan ini yang telah beberapa hari terjebak di kolong pondasi ruko tersebut. Tim Rescue membuat lubang dengan menjebol tembok kolong pondasi bangunan terlebih dahulu agar tim medis dapat melakukan pembiusan pada harimau. Berpacu dengan waktu sebelum harimau terjaga, tim harus mengeluarkan harimau dari kolong sempit tersebut.

“Ini tantangan nyata yang kita hadapi di lapangan, di sisi yang lain kita memiliki keterbatasan fasilitas untuk penyelamatan satwa,” jelas Suharyono.

“Saya ingin semua pihak dapat saling membantu mencari solusi terhadap tantangan ini. Termasuk dari perjalanan ini, saya harap ada dukungan nyata dari publik internasional untuk konservasi harimau sumatera dan satwa lainnya,’ jelas Suharyono lebih lanjut.

Perjalanan kedua pemain bola ini berlanjut ke Desa Tanjung Belit, Kampar Kiri Hulu, Kampar. Terletak di pinggir kawasan Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling, desa ini menjadi salah satu desa dampingan WWF bersama konsorsium (Yapeka dan Indecon). Menikmati sore yang mulai beranjak malam, kedua laki-laki yang bertubuh kekar ini menjajal interaksi dengan masyarakat melalui radio komunitas Lintas Subayang. Kemudian dilanjutkan dengan melihat pengelolaan pertanian organik dan biogas. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya perlindungan habitat harimau terintegrasi dengan tujuan mengurangi tekanan dari aktifitas masyarakat ke dalam kawasan melalui pemanfaatan sumber daya di sekitar mereka.

Tawa ceria dan semangat anak-anak SD Tanjung Belit memecah kesunyian lapangan bola sekolah tersebut, ketika dua pemain bola ini mengajak mereka turut serta bermain sepak bola Australia. Permainan bola ini berbeda dengan sepak bola yang kita kenal di Indonesia. Bolanya berbentuk oval, bisa ditendang dan bisa dilempar. Begitu antusiasnya kejar-kejaran bola dan kejar-kejaran kedua pemain ini pun mengisi kecerian pagi itu (24/11).

Richmond Tiger salah satu tim sepak bola yang terkenal di Autralia. Tim ini memiliki ratusan ribu penggemar di negaranya. Dan sesuai dengan nama yang disandangnya tiger alias harimau, mereka ingin membantu menyampaikan pesan penyelamatan Harimau Sumatera kepada publik di Australia.

Nick Vlastuin, pemain nomor satu di klubnya dan sangat terkenal di negaranya sangat terkesan begitu melihat keindahan alam di sekitar Rimbang Baling. Begitu melihat Sungai Subayang yang jernih, dia pun langsung ingin nyebur ke sungai. Tidak hanya menikmati alamnya, sepanjang perjalanan dia juga mulai memahami pentingnya penyelamatan Harimau Sumatera.

“Saya tahu Harimau Sumatera diambang kepunahan tapi saya tidak tahu persis permasalahan dan tantangan penyelamatan spesies ini di habitatnya,’ ungkap Nick.

‘Saya belajar banyak dari perjalanan ini, saya paham begitu berat pekerjaan yang harus dilakukan untuk penyelamatan harimau ini, deforestasi, perburuan, konflik mengancam keberadaan mereka.” Jelas Nick.

Semangat kedua pemain ini tidak luntur sedikit pun ketika tim monitoring harimau (kerjasama WWF-Indonesia dan BBKSDA Riau) membawa mereka melihat cara kerja kamera jebak yang digunakan untuk penelitian populasi harimau Sumatera. Bukit yang curam dan tinggi dilalui dengan santai, hujan deras yang tiba-tiba mengguyur puncak bukit tidak menyurutkan langkah mereke sedikipun menuju ke tempat pemasangan kamera jebak. Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Tiger Protection Unit Camp (Kamp Unit Perlindungan Harimau) di lanskap Rimbang Baling, Singingi Hilir , Kabupaten Kuantan Singingi.

Pagi hari ketiga dimulai dengan mengikuti Tiger Protection Unit (kerjasama WWF-Indonesia dan BBKSDA Riau) melakukan patroli jalan kaki ke dalam hutan. Patroli ini dilakukan untuk mengurangi ancaman ke dalam kawasan Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling.Kedua pemain bola belajar bagaimana melakukan patroli, mencatat temuan dan membersihkan jerat yang terpasang di lantai hutan.

Nick dan Jack juga melakukan penanaman di kawasan restorasi di Rimbang Baling. Di sini mereka belajar bahwa untuk penyelamatan spesies dan habitatnya dari kegiatan illegal tidak melulu melalui penegakan hukum tetapi bisa dilakukan melalui penyadaran intensif. Hal ini terbukti bahwa kawasan yang direstorasi dulunya adalah bekas kawasan yang dirambah (diklaim) oleh masyarakat. Lewat penyadaran yang dilakukan oleh tim BBKSDA Riau dan WWF, beberapa diantara mereka sadar akan dan menyerahkan kawasan tersebut ke otoritas yakni BBKSDA Riau.

Jack menyatakan,” Kami telah melihat langsung dan merasakan berbagai upaya yang dilakukan untuk penyelamatan Harimau Sumatera dan habitatnya di sini.” Kami akan menceritakan pengalaman ini kepada masyarakat di Australia agar mereka mendukung perlindungan Harimau Sumatera dan habitatnya.”

Kedua pemain ini pun meminta untuk mendapatkan terus informasi mengenai kerja-kerja konservasi yang dilakukan dalam penyelamatan Harimau Sumatera,  berjanji terus aktif mengkampanyekan dukungan terhadap satwa kharismatik ini.  

 
Dua pemain bola Australia, Nick Vlastuin dan Jack Graham dari Richmond Tiger sengaja bertandang ke bentang alam Bukit Rimbang Bukit Baling di Riau.
© WWF-Indonesia Enlarge
Perjalanan kedua pemain bola ini berlanjut ke Desa Tanjung Belit, Kampar Kiri Hulu, Kampar.
© WWF-Indonesia Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus