Nelayan Seraya Marannu, Penangkap Ikan Karang Ramah Lingkungan dari Manggarai Barat | WWF Indonesia

Nelayan Seraya Marannu, Penangkap Ikan Karang Ramah Lingkungan dari Manggarai Barat



Posted on 29 November 2018   |  
Nelayan mulai mencatat ikan hasil pancing mereka di dalam logbook yang dibangun bersama. Tujuannya untuk mengetahui tren penangkapan dan musim tangkapan ikan.
© WWF-Indonesia / Buguh Tri Hardianto
Oleh: Muhammad G. Salim (Fisheries Program Assistant, WWF-Indonesia)

Desa Seraya Marannu di Pulau Seraya Besar, Kecamatan Komodo, Manggarai Barat, adalah desa yang berbatasan dengan Taman Nasional Komodo. Desa dengan jumlah penduduk kurang dari 500 kepala keluarga ini didominasi oleh rumah tangga nelayan. Tangkapan utama nelayan Seraya Marannu adalah ikan karang, seperti kerapu.
 
Sebanyak 70% laki-laki usia produktif berprofesi sebagai nelayan. Armada perikanan yang dominan adalah perahu motol tempel dengan alat tangkap yang digunakan berupa pancing beserta modifikasinya.
 
Sejak tahun 2015, WWF-Indonesia melalui program perikanan tangkap menjalin kerja sama dengan dua kelompok nelayan, yaitu Kelompok Usaha Bersama (KUB) Sumber Rejeki dan KUB Hasil Laut. Kedua kelompok tersebut beranggotakan masing-masing 13 orang, 3 orang sebagai pengurus dan 10 anggota.
 
Kedua kelompok nelayan ini merupakan warisan program pendampingan nelayan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Manggarai Barat pada 2014. Untuk membina nelayan dalam menerapkan kegiatan penangkapan ikan yang ramah lingkungan, WWF-Indonesia mendampingi kelompok dalam pelatihan Beter Management Practices (BMP) Perikanan Kerapu dan Kakap.
 
Rangkaian pelatihan bertujuan untuk meningkatkan kapasitas nelayan dalam penangkapan dan penanganan ikan kerapu dan kakap secara baik dan benar. Tak hanya itu, kelompok ini juga dibekali dengan pengetahuan tata cara penanganan hasil tangkapan samping berupa hiu sesuai Better Management Practices (BMP) Panduan Penanganan Hiu.
 
Penyampaian materi BMP pertama kali dilakukan pada tahun 2016 di Desa Seraya Marannu dengan target pendengar adalah seluruh nelayan desa. Selama tahun 2018, dua kelompok dampingan ini secara eksklusif mendapatkan pelatihan kembali terkait BMP untuk praktik penangkapan ikan kerapu dan kakap.
 
Sebelum BMP disosialisasikan, kami terlebih dulu menilai praktik penangkapan ikan yang dilakukan nelayan, apakah sesuai dengan kaidah penangkapan ramah lingkungan yang ada di BMP. Untuk penilaian awal, praktik penangkapan ikan KUB. Sumber Rejeki sudah 72% sesuai dengan BMP. Sedangkan untuk KUB. Hasil Laut, 73,56% telah sesuai.
 
Dalam proses pelatihan, nelayan sangat antusias dalam menyimak materi, hal tersebut terbukti dengan aktifnya nelayan memberi masukan berdasarkan pengalaman mereka selama ini, contohnya bagaimana menangani ikan hasil tangkapan yang terkena dekompresi saat proses memancing.
 
Selain membekali dengan keterampilan dalam penangkapan dan penanganan, kelompok juga diberikan pendampingan mengenai penguatan kelembagaan. Pendampingan tersebut meliputi pembentukan legalitas kelompok dan mengadakan pertemuan rutin bulanan. 

Nelayan Semakin Sadar: Mulai Mencatat Hasil Tangkapan

Setelah pendampingan kelompok melalui sosialisasi BMP, terjadi peningkatan nilai sebesar 9-10%. Yang membuktikan nelayan kedua kelompok mulai berproses menuju penangkapan ikan yang lebih baik dan berkelanjutan.
 
Sebagai contohnya, nelayan mulai mencatat ikan hasil pancing mereka di dalam form logbook yang dibangun bersama. Tujuannya untuk mengetahui tren penangkapan dan musim tangkapan ikan, juga berkontribusi dalam kajian stok sumber daya ikan yang ada di perairan P. Seraya. Harapannya, logbook ini dapat diadopsi menjadi pengelolaan perikanan di Manggarai Barat.
 
Kini, anggota kelompok lebih menyadari pentingnya keberlangsungan sumber daya ikan dengan tetap menggunakan alat tangkap ramah lingkungan. Mereka tidak menangkap anakan ikan, dan aktif dalam menyebarkan pengetahuan yang dimiliki kepada nelayan lain serta mengajak nelayan lain untuk bersama menjaga sumber daya ikan.
 
“Saat ini, tantangan yang kami hadapi itu, sulitnya akses untuk menjual hasil tangkapan,” ungkap  Aris Mummang, Ketua KUB Hasil Laut.
 
Saat ini penjualan ikan masih tergantung kepada pengumpul Desa dan pengumpul Labuan Bajo. WWF-Indonesia berserta kelompok terus berupaya untuk dapat memfasilitasi penjualan hasil tangkapan.

Nelayan mulai mencatat ikan hasil pancing mereka di dalam logbook yang dibangun bersama. Tujuannya untuk mengetahui tren penangkapan dan musim tangkapan ikan.
© WWF-Indonesia / Buguh Tri Hardianto Enlarge
Setelah pendampingan kelompok melalui sosialisasi BMP, terjadi peningkatan nilai sebesar 9-10%. Yang membuktikan nelayan kedua kelompok mulai berproses menuju penangkapan ikan yang lebih baik dan berkelanjutan.
© WWF-Indonesia / Buguh Tri Hardianto Enlarge
Selain membekali dengan keterampilan dalam penangkapan dan penanganan, kelompok juga diberikan pendampingan mengenai penguatan kelembagaan.
© WWF-Indonesia / Buguh Tri Hardianto Enlarge
Armada perikanan nelayan Pulau Seraya yang dominan adalah perahu motol tempel dengan alat tangkap yang digunakan berupa pancing beserta modifikasinya.
© WWF-Indonesia / Muhammad G. Salim Enlarge
Untuk membina nelayan dalam menerapkan kegiatan penangkapan ikan yang ramah lingkungan, WWF-Indonesia mendampingi kelompok dalam pelatihan Beter Management Practices (BMP) Perikanan Kerapu dan Kakap.
© WWF-Indonesia / Muhammad G. Salim Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus