Karena Cinta Tak Harus Memiliki, Ayo Laporkan! | WWF Indonesia

Karena Cinta Tak Harus Memiliki, Ayo Laporkan!



Posted on 03 December 2018   |  
Peluncuran kampanye Indonesia Stop Perdagangan Ilegal Satwa Liar Dilindungi (5/11/2018).
© WWF-Indonesia/Dissy Ekapramudita
Oleh: Nur Arinta
 
Indonesia adalah negara yang dikaruniai keanekaragaman hayati yang sangat kaya, baik flora maupun  fauna. Sebagai salah satu biodiversity hotspot, Indonesia menjadi rumah bagi 10 persen tanaman berbunga di dunia, 12 persen mamalia, serta 17 persen reptil, amfibi, dan burung dari seluruh dunia. Hal ini membuat negara kita menempati peringkat kedua sebagai mega-biodiversity country, setelah Brazil dan Columbia. Sayangnya, semua spesies tersebut menghadapi ancaman perburuan dan perdagangan ilegal, dan ini merupakan ancaman besar yang dapat membawanya menuju kepunahan.

Merespon ancaman besar ini, WWF-Indonesia meluncurkan kampanye stop perdagangan ilegal satwa liar dilindungi, yang bertajuk “Indonesia Says No! to Illegal Wildlife Trade.” Peluncuran kampanye yang berlangsung tepat pada Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (5/11/2018) ini diselenggarakan di Gedung Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, Jakarta. Acara ini turut dimeriahkan oleh para pendukung kampanye dari berbagai kalangan, di antaranya adalah musisi kebanggaan Indonesia seperti Tulus, Jamaica Cafe, OM PMR, Semenjana, Primata Band, Full Lights Out, Wolf of Beatbox, seniman pantomim Wanggi Hoed, komedian Abdur Rasyid, Reinold, Yewen, dan jurnalis ternama Prita Laura.

Tidak hanya itu, dalam acara ini WWF-Indonesia juga meluncurkan video public service announcement (PSA) kampanye yang berisi ajakan kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk ikut berkontribusi menghentikan perburuan dan perdagangan ilegal satwa liar dilindung. Terdapat 21 video PSA yang didukung oleh berbagai pihak di antaranya para penegak hukum, pembuat kebijakan, atlet Asian Para Games 2018, serta para pendukung dari kalangan pekerja seni. 

[Baca juga: Perdagangan Ilegal Satwa Liar: Dari Pasar Pindah ke Gawai]

Keberadaan spesies-spesies yang hidup di alam Nusantara tentu menjadi penting sebagai kekayaan dan kebanggaan bangsa kita. Lebih dari itu, kita memerlukan mereka sebagai penjaga keseimbangan ekosistem demi keberlangsungan kehidupan manusia. Pentingnya peran spesies dalam melindungi alam Indonesia dan dunia sayangnya tidak membuat spesies tersebut bebas dari ancaman perburuan dan perdagangan ilegal.

Dalam sambutannya, CEO WWF-Indonesia Rizal Malik menuturkan, “Laporan WWF dari The Living Planet Report tahun 2018 mengatakan bahwa populasi global spesies terus menurun, terutama yang sangat mengkhawatirkan adalah vertebrata atau hewan bertulang belakang. Vertebrata merupakan salah satu indikator kesehatan ekosistem kita yang rata-rata menurun 60% hanya dalam kurun 40 tahun terakhir, dan salah satu penyebab utamanya adalah perdagangan ilegal satwa liar dilindungi.”

Tidak dapat dipungkiri bahwa Indonesia menjadi bagian dari pusat perdagangan beragam satwa liar yang dilindungi secara global sebagai sumber, jalur transit, dan pasar penjualan satwa liar yang terancam punah dan bernilai tinggi. Tindak kejahatan ini menjadi ancaman besar bagi populasi satwa di alam dan masih terus terjadi hingga saat ini. Perdagangan ilegal satwa liar dilindungi ini juga diyakini ikut mendorong proses kepunahan satwa secara signifikan, selain dari faktor hilangnya habitat dan bahaya penyebaran penyakit yang berasal dari satwa (zoonosis). Menurut International Enforcement Agency (IEA), nilai perdagangan global satwa liar bersaing dengan perdagangan manusia, narkotika, dan senjata gelap.

Salah satu yang dinilai berkontribusi dalam maraknya perdagangan satwa dilindungi adalah masih tingginya permintaan dari masyarakat yang berminat memiliki bagian tubuh satwa liar, menjadikan sebagai hewan peliharaan di rumah, atau mengoleksi satwa liar yang sudah diawetkan, sebagai bagian dari gengsi dan gaya hidup berkelas. Selain itu, masyarakat juga banyak menganggap banyak bagian tubuh satwa yang memiliki khasiat, baik sebagai obat tradisional yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit hingga menjadi jimat. Padahal khasiatnya tidak terbukti secara ilmiah sama sekali.

[Baca juga: Stop Perdagangan Satwa Dilindungi, Amankan Keberlanjutan Pangan]

Tidak hanya itu, komunitas yang mengatasnamakan “pecinta satwa” semakin menjamur. Novi Hardianto, Wildlife Crime Unit Officer WWF-Indonesia menyatakan bahwa, komunitas-komunitas pecinta satwa yang semakin menjamur berpotensi besar untuk berkontribusi melanggengkan praktik perdagangan satwa liar dilindungi. “Komunitas pecinta satwa ini biasanya memiliki percakapan dalam grup tertutup. Meskipun sebagian besar anggota komunitas tersebut tidak memelihara satwa dilindungi, namun tidak menutup kemungkinan dapat terjadi transaksi perdagangan ilegal satwa liar yang dilindungi di dalamnya,” jelas Novi.

Hingga saat ini masih banyak orang yang berpikir bahwa dia dapat mengekspresikan rasa cintanya kepada satwa liar dengan cara memelihara dan merawatnya, padahal hal tersebut adalah pemahaman yang salah. Setiap satwa liar memiliki fungsi ekologisnya di alam. Bila kita mencintai satwa, sebaiknya kita turut berkontribusi memastikan kelestarian satwa dan habitatnya. Salah satu cara untuk dapat mengekspresikan kecintaan kita terhadap satwa adalah dengan berkontribusi aktif menghentikan tindak kejahatan perdagangan satwa liar, karena praktik perdagangan ini merupakan ancaman besar yang menyebabkan menurunnya populasi satwa liar, terutama yang dilindungi di Indonesia dan dunia.

Sudah saatnya kita putus rantai kejahatan ini. Bersama WWF-Indonesia, ayo dukung upaya stop perdagangan ilegal satwa liar dan selamatkan spesies-spesies di Indonesia. Bila kamu menemukan praktik kejahatan ini, laporkan melalui aplikasi e-Pelaporan Satwa Dilindungi agar segera ditindak oleh pihak yang berwajib. Mari bersama kita katakan “I say no! To illegal wildlilfe trade,” dan tunjukan aksi nyata untuk memberantas tindak kejahatan ini. Tunjukan cintamu kepada satwa dengan lindungi mereka di habitatnya, karena cinta tak harus memiliki.
Peluncuran kampanye Indonesia Stop Perdagangan Ilegal Satwa Liar Dilindungi (5/11/2018).
© WWF-Indonesia/Dissy Ekapramudita Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus