Menjaga Tradisi, Ciptakan Harmoni dalam Pemanfaatan Sumber Daya Laut di Tarof-Kokoda | WWF Indonesia

Menjaga Tradisi, Ciptakan Harmoni dalam Pemanfaatan Sumber Daya Laut di Tarof-Kokoda



Posted on 12 December 2018   |  
Pengoperasian alat tangkap lamparan/tango-tango oleh kaum perempuan di muara sungai Kenaiburi-Tarof.
© USAID SEA/Irwanto
Oleh: Muh. Ridwan Putra-MPA Fasilitator WWF-Indonesia di Papua Barat, Ismail Marzuki-Fisheries Enumerator WWF-Indonesia di Papua Barat​
 

“Orang-orang cerdas dan inovatif banyak lahir dari Kabupaten Sorong Selatan, mereka dibesarkan melalui hasil sumberdaya alam terutama laut. Protein yang tinggi banyak bersumber dari laut sorong selatan salah satunya jenis udang. Potensi laut tersebut sudah sejak lama dimanfaatkan oleh masyarakat pesisir menjadi bahan pangan yang sehat”, tegas salah satu tokoh masyarakat juga tokoh agama di Kampung Tarof-Kokoda, Bapak Haji Hasan Kabes.
 
Survei yang dilakukan oleh WWF-Indonesia sebagai mitra pelaksana dari USAID SEA Project pada tahun 2017 di Kabupaten Sorong Selatan, mengungkap potensi perikanan udang sekitar 1.386 ton. Survey tersebut juga memperlihatkan bahwa Catch per Unit Efort (CPUE) udang yang ditangkap oleh nelayan diperkirakan sebesar 18,98 kg/trip yang mana alat tangkapnya sebagian besar menggunakan trammel net.

Dalam memanfaatkan sumberdaya laut, nelayan Kabupaten Sorong Selatan telah terlatih menggunakan alat tangkap yang cukup modern dan telah dimodifikasi sedemikian rupa. Sebagai tokoh dan juga nelayan,Bapak Hasan mengatakan bahwa alat tangkap dizaman sekarang dimodifikasi dengan tujuan utama hanya untuk eksploitasi dan sangat sedikit yang dirancang agar penggunaannya ramah lingkungan.
 
Tak salah jika hasil tangkapan nelayan saat ini sedang mengalami penurunan dan masyarakatnya terancam kekurangan bahan pangan laut. Padahal yang membuat orang menjadi cerdas itu banyak mengkonsumsi pangan laut yang banyak proteinnya. Kalau stok udang sudah habis, bisa saja anak cucu kita hanya mengkonsumsi makanan instan dan tentunya tidak baik untuk kesehatan apalagi  untuk kebutuhan otak. Kehilangan pangan laut seperti udang sama saja kehilangan generasi yang cerdas.
 
Selain dikenal dengan potensi lautnya, Kampung Tarof Distrik Kokoda Kabupaten Sorong Selatan juga dikenal sebagai wilayah yang memanfaatkan potensi perikanan dengan konsep perikanan berkelanjutan. Secara tradisi, Suku Emeyode di Kampung Tarof telah memegang teguh keharmonisan manusia dengan alam agar dapat saling hidup berdampingan selamanya.
 
Keharmonisan tersebut diwujudkan melalui penggunaan alat tangkap perikanan yang tradisional seperti lamparan, dalam bahasa lokal dikenal dengan tango-tango. Alat tangkap tersebut biasanya dioperasikan oleh kaum perempuan disaat air laut sedang surut. Daerah pengoperasiannya biasanya disekitar muara sungai Kenaburi, Tarof. Target tangkapan untuk jenis alat tangkap ini adalah jenis udang-udangan yang berukuran kecil yang biasa disebut ende oleh masyarakat lokal.

Potensi sumberdaya perikanan di wilayah perairan Kokoda memang masih belum banyak memberikan manfaat langsung secara ekonomi bagi masyarakatnya. Namun, potensi tersebut menjadi incaran bagi nelayan-nelayan yang berasal dari luar wilayah Kabupaten Sorong Selatan yang cenderung menggunakan alat tangkap modern dan eksploitatif. Sayangnya, aktifitas tersebut sudah sejak lama dan sampai saat ini masih sering ditemui oleh nelayan setempat. Keterbatasan sarana dan prasarana pengawasan menjadi kendala utama masyarakat Kampung Tarof dalam menjaga potensi sumberdaya perikanannya.

Hal tersebut membuat sebagian besar masyarakat Kampung Tarof merasa geram dan pada akhirnya berupaya mendorong pemerintah Kabupaten untuk membuat sebuah konsep pengaturan pemanfaatan sumberdaya laut. Upaya pembentukan Kawasan Konservasi Perairan (KKP) sudah dilakukan sejak tahun 2013 di wilayah Laut dan Pesisir IMEKKO salah satunya adalah wilayah pesisir Kokoda. Dan di tahun 2017 hingga sekarang, upaya pembentukan KKP tersebut akhirnya masuk ke dalam proses pencadangan dengan dukungan dari USAID SEA Project.
 
Ismail Urbun yang merupakan Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas (POKMASWAS) di Kampung Tarof-Kokoda berharap dengan dibentuknya KKP di Sorong Selatan dapat membuat mekanisme pengawasan sumberdaya laut yang efektif secara partisipatif. Selain itu pengelolaan kawasan konservasi tersebut diharapkan dapat memelihara kearifan lokal terutama dalam pemanfaatan potensi sumberdaya perikanan. Sehingga mekanisme penangkapan dengan penggunaan alat tangkap perikanan yang secara tradisional tidak punah dan tidak digantikan dengan penggunaan alat tangkap yang bersifat  eksploitatif. Dengan demikian akan terciptalah keharmonisan antara sumberdaya alam dengan manusia.
 
Dalam upaya mengefektifkan pengelolaan kawasan konservasi di Kabupaten Sorong Selatan serta untuk membangun kapasitas sumberdaya manusia dalam aspek pengawasan, USAID SEA Project melaksanakan pelatihan untuk POKMASWAS (5/12). Tujuan dari pelatihan ini tidak lepas dari adanya permasalahan dan harapan masyarakat Kampung Tarof-Kokoda untuk tetap menjaga potensi perikanan mereka untuk anak cucu kelak. Dengan adanya dukungan kapasitas masyarakat dalam mengawasi potensi sumberdaya perikanan di wilayah mereka, maka proses pemanfaatan potensi akan terus berlangsung dan pastinya akan banyak memberikan manfaat langsung secara ekonomi bagi masyarakat disekitarnya khususnya didalam kawasan konservasi.

Pengoperasian alat tangkap lamparan/tango-tango oleh kaum perempuan di muara sungai Kenaiburi-Tarof.
© USAID SEA/Irwanto Enlarge
Pengoperasian alat tangkap lamparan/tango-tango oleh kaum perempuan di muara sungai Kenaiburi-Tarof.
© USAID SEA/Ismail Marzuki Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus