Melestarikan Alam, Menjalankan Kewajiban Kepada Tuhan | WWF Indonesia

Melestarikan Alam, Menjalankan Kewajiban Kepada Tuhan



Posted on 20 December 2018   |  
Hutan Taman Nasional Bukit Tigapuluh
© WWF-Indonesia
Oleh: Nur Arinta
 
Islam merupakan salah satu agama di dunia yang memiliki jumlah pemeluk cukup banyak, dan Indonesia dijuluki sebagai negara dengan pemeluk agama Islam terbanyak di dunia. Sebagaimana sebuah agama yang menjadi pedoman hidup umat manusia, Islam juga mengatur hal-hal tentang hubungan manusia dan alam. Melestarikan alam tak hanya melindungi satwa, tapi juga turut melindungi proses ekologis sehingga sistem alam yang berjalan tidak terputus. Environmentalis modern bernama Mawli Y. Izzi Deen mengatakan bahwa melestarikan lingkungan sebagai bagian dari ekologi adalah wajib dalam Islam. Seorang asisten profesor Universitas King Abdul Aziz, Jeddah, Arab Saudi juga menuturkan dalam esainya yang berjudul Islamic Environmental Ethics, Law, and Society, bahwa konservasi terhadap lingkungan harus dilakukan karena lingkungan dan seluruh makhluk di dalamnya adalah ciptaan Allah SWT yang dititipkan kepada manusia di bumi.

Tak berhenti di situ, Islam juga mengajarkan umatnya untuk berbuat baik kepada lingkungan. Nabi Muhammad pernah bersabda, siapa pun yang berbuat baik kepada alam dengan hati yang tulus akan mendapatkan imbalan dari Allah SWT berupa pahala. Bahkan sejak zaman Nabi Muhammad, Islam telah mengenalkan konsep “hima”, yakni penetapan zona tertentu untuk konservasi alam dan melindungi tumbuhan dan satwa liar, dimana di dalamnya tidak diperbolehkan mendirikan bangunan, membuat ladang, membuka lahan, dan berburu.

Dikutip dari republika.co.id, terdapat lima tipe hima yang berlaku di masa Rasulullah SAW. Tipe pertama, hima yang tidak boleh digunakan untuk menggembala ternak, namun masyarakat masih diperbolehkan untuk memotong pohon di wilayah ini selama pohon yang akan dipotong telah berusia tua dan sudah menghasilkan bunga dan buah. Tipe kedua, wilayah dimana masyarakat diperbolehkan menggembala ternak dan memotong pohon yang telah berbunga dan menghasilkan buah, guna membantu proses pembibitan secara alami di musim selanjutnya.

Tipe ketiga, wilayah yang diizinkan untuk menjadi wilayah penggembalaan sepanjang tahun, namun dibatasi jenis ternaknya dan diterapkan sistem kuota. Pada wilayah ini juga masyarakat diperbolehkan memotong rumput. Tipe keempat, wilayah tersebut dijadikan suaka lebah, dimana masyarakat hanya boleh menggembala ternak setelah musim bunga selesai. Tipe kelima, berfungsi sebagai kawasan konservasi hutan. Pada kawasan ini, masyarakat diperbolehkan memotong pohon hanya pada saat darurat. Tipe terakhir adalah kawasan konservasi hutan untuk pencegahan pembentukan padang pasir.

Sebagai negara dengan mayoritas pemeluk agama Islam terbanyak di dunia, pendekatan melalui kearifan agama dapat menjadi salah satu metode yang dapat digunakan dalam melakukan upaya penyadaran akan pelestarian lingkungan dan satwa liar.  Hal ini dapat dilakukan melalui para pemuka masyarakat informal, seperti pemuka agama atau pemuka adat yang dihormati di tingkat akar rumput.

Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional MUI, KH. Muhyiddin Junaidi MA, mengatakan “Majelis Ulama Indonesia telah membentuk Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup, yang mana memiliki tupoksi untuk mengeluarkan fatwa-fatwa atau opini keagamaan tentang perlunya melestarikan satwa liar dan ekosistem demi menjaga  lingkungan Indonesia.”

Berdasarkan hal tersebut, Majelis Ulama Indonesia sebagai sebuah lembaga agama terkemuka di Indonesia menetapkan Fatwa Nomor 4 Tahun 2014 tentang Pelestarian Satwa Langka untuk Keseimbangan Ekosistem. Dimana fatwa ini berisi tentang perintah untuk melindungi dan melestarikan satwa langka, baik yang dilindungi maupun tidak dilindungi, hidup di alam bebas atau dipelihara, memiliki populasi yang kecil dan populasinya di alam menurun drastis, serta memerlukan upaya pelestarian agar mencegah kepunahan. Dibuatnya Fatwa No. 4 Tahun 2014 bertujuan untuk mencegah kepunahan spesies yang diakibatkan oleh berbagai ancaman yang dialami satwa-satwa dan bisa mengakibatkan kepunahan, dimana kepunahan spesies tersebut akan mengganggu keseimbangan ekosistem yang harus dijaga.

Fatwa ini juga berisi rekomendasi-rekomendasi yang ditujukan kepada pemerintah, badan legislatif, pemerintah daerah, pelaku usaha, tokoh agama, dan masyarakat luas. Rekomendasi tersebut berisi tentang anjuran agar kita melakukan langkah-langkah perlindungan dan pelestarian satwa langka untuk mencegah kepunahan, yang mana salah satunya adalah upaya penegakkan hukum untuk menghentikan perburuan dan perdangangan satwa liar, terutama spesies-spesies yang dilindungi.

Majelis Ulama Indonesia juga memiliki da’i lingkungan, yakni da’i yang khusus berbicara tentang pentingnya menjaga dan melestarikan lingkungan hidup. “MUI membuat da’i-da’i lingkungan karena lingkungan hidup adalah bagian yang tidak dapat terpisah dari kehidupan manusia. Bukan hanya fardhu kifayah (wajib untuk sebagian umat) hukumnya, tapi fardhu ‘ain (wajib dilakukan) untuk seluruh umat manusia menjaga lingkungan hidup.” Pernyataan ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa keterlibatan seluruh pihak tanpa terkecuali, sangatlah diperlukan guna melindungi, melestarikan, dan menjaga keseimbangan ekosistem.

Agama merupakan salah satu pendekatan yang dapat dipilih sebagai metode sosialisasi dan edukasi, yang dapat digunakan untuk mempengaruhi masyarakat agar mau menjaga kelestarian satwa dan mencegah terjadinya kepunahan spesies. Sebagaimana ajaran yang terdapat pada setiap agama yang mengatakan bahwa manusia tak hanya memiliki hubungan baik dengan Tuhan, tapi juga kepada manusia lainnya dan harus hidup harmonis berdampingan dengan alam. Oleh karenanya, bila seluruh pihak dapat menjalankan fungsi dan perannya masing-masing, bukan tidak mungkin bagi kita untuk membuat mimpi akan kualitas kelestarian satwa dan ekosistem yang terjaga dengan baik dapat diwujudkan dengan mudah.
Hutan Taman Nasional Bukit Tigapuluh
© WWF-Indonesia Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus