Kemah Konservasi Hijaukan Pesisir Pinrang dengan 1800 Mangrove | WWF Indonesia

Kemah Konservasi Hijaukan Pesisir Pinrang dengan 1800 Mangrove



Posted on 24 January 2019   |  
Penanaman mangrove di Wiringtasi, Suppa
© WWF-Indonesia / Zulkarnain
Oleh: Zulkarnain (Fasilitator, Aquaculture Improvement Program, WWF-Indonesia) & Idham Malik (Aquaculture Staff, WWF-Indonesia)

Kegiatan berkemah di alam terbuka, bukan kegiatan baru bagi anak muda. Namun, anak-anak muda yang tergabung dalam Garda Mangrove Kabupaten Pinrang di Sulawesi Selatan, memaknai kegiatan berkemah tak hanya dekat dengan alam, tetapi juga berkontribusi untuk kelestariannya.
 
Garda Mangrove adalah persaturan dari berbagai komunitas peduli lingkungan di Pinrang dan Pare. Gerakan ini adalah bentuk kolaborasi untuk perbaikan ekosistem pesisir Sulawesi Selatan secara kolektif dan berkelanjutan.
 
Kemah Konservasi (3-5/11/18) adalah salah satu agenda Garda Mangrove untuk beraksi bersama menanam mangrove, yang didukung oleh PT. Bogatama Marinusa (PT. Bomar) dan WWF-Indonesia.
 
Ketika mangrove tumbuh dan memperlebar sempadan pantai, sangat berguna untuk mencegah abrasi pantai yang dapat mengikis kawasan tambak udang.  Mangrove juga menjadi habitat bagi spesies – spesies ekosistem mangrove, di antaranya ikan, udang liar, kerang-kerangan, dan kepiting.
 
Saat ini,  di Sulawesi Selatan, produksi udang tidak seproduktif 20 tahun yang lalu, jika dihitung dengan tingkat daya lulus hidup. Hal ini salah satunya disebabkan oleh menurunnya mutu lingkungan, sehingga tidak dapat mengendalikan penyakit.
 
Mengusung tema ‘Connecting People to Nature’, selama dua hari, kurang lebih 40 peserta Kemah Konservasi terlibat dalam diskusi lingkungan pesisir.
 
Ir. Haeruddin, M.Si, dosen Jurusan Perikanan Universitas Muhammadiyah (UMP), Pare-Pare, Sulawesi Selatan, untuk menjelaskan manfaat limbah Sargassum sp untuk dijadikan bahan baku probiotik untuk perbaikan kualitas air kolam ikan dan tambak. Pemateri kedua adalah Dosen Hukum UMP, menjelaskan tentang advokasi lingkungan pesisir. Malam harinya, Taufik Sabir, tokoh masyarakat setempat, memandu para peserta dalam diskusi tentang bagaimana menata masa depan pribadi, kelompok, dan daerah.

1800 Anakan Mangrove Hijaukan Pesisir Desa Wiringtasi, Pinrang

Hari kedua, Minggu, 4 November 2018, tim Garda Mangrove, bersama WWF-Indonesia dan PT. Bomar melakukan penanaman mangrove sebanyak 1800 pohon di pesisir perairan sekitar tambak Desa Wiringtasi, Kecamatan Suppa, Kab. Pinrang. Tim Garda Mangrove melakukan penanaman sejak pukul 10.00 wita hingga pukul 14.00 wita.
 
Mereka tetap semangat menanam mangrove di tengah teriknya matahari siang. Dimulai dari briefing oleh Fuad Faturrahman, kordinator penanaman mangrove, dilanjutkan pembagian tugas, dalam hal ini, ada yang menancapkan ajir (kayu penahan mangrove) di dasar pantai, dan ada yang menanam mangrove lalu mengikatkan mangrove tersebut ke ajir. Para pegiat mangrove tersebut menanam dengan penuh kegembiraan, walaupun ada yang mengeluh gatal – gatal di bagian kaki dan sebagian tubuh.
 
Lokasi penanaman juga menjadi target survei plastik ke depan, sebab, lokasi tersebut merupakan tempat menumpuknya sampah plastik, khususnya bekas-bekas minuman gelas mineral. Bertebaran dengan sangat rapat di pantai. Sampah – sampah tersebut diperkirakan berasal dari Kawasan – Kawasan lain, yang akhirnya mendarat setelah terbawa arus.
 
Pada Senin, 5 November 2018, dilanjutkan lagi penanaman mangrove di pesisir Desa Maritengae, Kecamatan Suppa, Kab. Pinrang. Lokasi ini sudah padat mangrove pada sempadan pantai, namun tetap diperlukan untuk menambah kepadatan mangrove yang berdekatan dengan Kawasan tambak udang windu, vannamei, dan polikultur bandeng di sekitarnya. Mangrove yang ditanam di Maritengae, sekitar 2000 bibit.

Kawasan Mana yang Cocok Ditanami Mangrove?

Sebelumnya, pada 26 – 28 Oktober 2018, tim penanaman mangrove telah melakukan penelusuran ke lokasi – lokasi yang layak untuk ditanami mangrove di Pinrang. Tiga rekomendasi utama saat itu adalah Desa Wiringtasi dan Desa Maritengae, Kec. Suppa, serta saluran air Kawasan tambak Duampanua, Pinrang. Kawasan – Kawasan tersebut dipilih karena memenuhi syarat penanaman mangrove, di antaranya:

  1. Kawasan yang akan ditanami tersebut memang merupakan Kawasan mangrove atau punya sejarah tumbuhnya mangrove
  2. Pada daerah – daerah tersebut telah tumbuh jenis bibit mangrove Rhizopora, yang juga merupakan jenis mangrove yang akan ditanam
  3. Lokasi penanaman mangrove terletak di daerah pantai yang terdapat pasang surut, serta terlindungi dari ombak besar, karena merupakan daerah teluk, dalam hal ini teluk Pare-Pare, 4). Ketiga tempat tersebut minim gangguan hama hewan, seperti kambing dan sapi
  4. Kawasan tersebut telah memperoleh persetujuan dengan tokoh dan masyarakat setempat. Masyarakat juga berinisiatif untuk membantu memelihara mangrove – mangrove tersebut.

 
**
Jumlah mangrove yang telah ditanam oleh PT. Bomar bersama WWF-Indonesia yang dibantu oleh tim Garda Mangrove, serta Aquaculture Celebes Community (ACC) sebanyak 17.000 pohon. PT. Bomar berkomitmen menanam mangrove sebanyak 60.000 pohon sebagai bentuk rehabilitasi 50% kawasan tambak tradisional udang windu yang didaftarkan untuk memperoleh sertifikat ASC Shrimp. 

Penanaman mangrove di Wiringtasi, Suppa
© WWF-Indonesia / Zulkarnain Enlarge
Kegiatan seminar lingkungan Kemah Konservasi
© WWF-Indonesia / Zulkarnain Enlarge
Tim garda mangrove bersiap untuk penanaman mangrove
© WWF-Indonesia / Zulkarnain Enlarge
Penanaman mangrove di Maritengae, Sanglah
© WWF-Indonesia / Zulkarnain Enlarge
Penanaman mangrove di Wiringtasi
© WWF-Indonesia / Zulkarnain Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus