Pengelolaan Hutan yang Bertanggung Jawab melalui Sistem Sertifikasi Jasa Ekosistem FSC | WWF Indonesia

Pengelolaan Hutan yang Bertanggung Jawab melalui Sistem Sertifikasi Jasa Ekosistem FSC



Posted on 28 January 2019   |  
Penerapan pengelolaan hutan yang bertanggung jawab melalui pendekatan sertifikasi FSC (Forest Stewardship Council).
Penerapan pengelolaan hutan yang bertanggung jawab melalui pendekatan sertifikasi FSC (Forest Stewardship Council).
© WWF/Simon Rawles
[BAHASA INDONESIA]
Hutan Indonesia merupakan habitat untuk keanekaragaman hayati unik yang meliputi 12 persen spesies mamalia di dunia, 7,3 persen spesies reptil dan amfibi, serta 17 persen spesies burung di seluruh dunia. Lebih dari itu, hutan juga berkontribusi pada ketersediaan air dan udara bersih yang kita nikmati setiap harinya.
 
Sayangnya, hutan yang dimiliki Indonesia sedikit demi sedikit hilang seperti yang terjadi di Kalimantan. Pada tahun 2016, Kalimantan telah mengalami kehilangan hutan dan menyisakan sekitar 50% hutan dari luas keseluruhan pulau. Kehilangan hutan dapat terjadi karena berbagai faktor seperti kebakaran, konversi hutan dan pengelolaan hutan yang tidak bertanggung jawab. Untuk dapat memulihkan kondisi hutan sebagai ekosistem, berbagai upaya telah dilakukan satu diantaranya kegiatan reforestasi dan restorasi Kawasan.
 
Di samping itu, penerapan pengelolaan hutan yang bertanggung jawab melalui pendekatan sertifikasi FSC (Forest Stewardship Council) juga dianggap penting karena hal tersebut sejalan dengan dampak positif yang dihasilkan oleh ekosistem yang lebih dikenal dengan sebutan jasa Lingkungan. Berdasarkan perkembangan itu, FSC mengembangkan program jasa Lingkungan bernama Forest Certification for Ecosystem Services (ForCES) (http://forces.fsc.org/indonesia.26.htm).
 
Saat ini ForCES diterapkan dan dikembangkan di empat negara, yaitu; Chili, Indonesia, Nepal dan Vietnam. Di Indonesia, uji coba dilakukan di tiga lokasi yaitu jasa Lingkungan air di Pulau Lombok, jasa Lingkungan Ekowisata di Kapuas Hulu Kalimantan Barat dan jasa Lingkungan karbon hutan dan keanekaragaman hayati di Kalimantan Timur.
 
Sejak tahun 2012 hingga 2015, WWF-Indonesia, Kyoto University, dan mitra perusahaan kayu juga telah mengembangkan studi untuk menilai kondisi ekosistem melalui pengukuran karbon hutan dan monitoring satwa liar di dalam area konsesi. Pasca studi tersebut ditemukan bahwa perlu adanya kegiatan peningkatan kapasitas staf lapangan dalam monitoring pengukuran dan perhitungan biomassa (karbon) serta pendampingan penyusunan dokumen klaim jasa Lingkungan.
 
Lebih lanjut kedua kegiatan tersebut juga dijadikan dasar dan bukti bahwa pengelolaan hutan yang bertanggung jawab dapat meningkatkan atau menghasilkan jasa Lingkungan. Atas dasar tersebut, pada Mei 2017, salah satu mitra perusahaan melakukan uji coba main assessment untuk FSC Ecosystem Services yang dilakukan oleh Badan Sertifikasi SGS Qualifor. Adapun lingkup penilaian jasa Lingkungan mencangkup karbon hutan dan keanekaragaman hayati yang berada pada luasan area 84,850 ha.
 
Angga Prathama Putra, Responsible Forest National Coordinator, WWF-Indonesia turut mengungkapkan bahwa sertifikasi FSC memberi keyakinan bahwa hutan yang dikelola dengan baik, dapat berdampak positif pada jasa Lingkungan dan bermanfaat untuk manusia. “Dan apabila dampak-dampak itu bisa didemonstrasikan dan diverifikasikan, mereka akan lebih dikenal oleh masyarakat dan dihargai pasar.” lanjut Angga.
 
Kegiatan ini juga turut didukung oleh Toyota Motor Corporation melalui program “Living Asian Forest Project” yang bertujuan untuk mendorong praktek pengelolaan hutan yang bertanggung jawab agar sumber daya alam seperti kayu dapat menjadi komoditas yang keberlanjutan.

---

[ENGLISH]

Responsible Forest Management through FSC Ecosystem Services
 
Indonesian forest is a habitat for unique biodiversity that covers 12 percent of mammal species of the world, 7.3 percent of species of reptiles and amphibians, and 17 percent of bird species worldwide. More than that, forests also contribute to the availability of freshwater and clean air that we enjoy every day.
 
Unfortunately, Indonesia’s forests are diminishing at an alarming scale as deforestation happened in Kalimantan. In 2016, Kalimantan experienced forest loss, leaving around 50% of the forest from the total area of the island. Conversion into commercial plantations, forest fires, and poor forest management practices are some of the key drivers of deforestation in Kalimantan. To restore the condition forest ecosystem, various efforts have been carried out, including reforestation and restoration activities.
 
In addition, implementation of responsible forest management through FSC (Forest Stewardship Council) certification approach is also considered to be a positive driver to generate ecosystem service to reward the protection of the forest’s rich biodiversity. FSC’s Forest Certification for Ecosystem Services (ForCES) (http://forces.fsc.org/indonesia.26.htm) is currently implemented and developed in four countries, namely Chile, Indonesia, Nepal and Vietnam.
 
In Indonesia, there are three selected pilot sites, they are the ecosystem services for protecting the water supply in Lombok Island, ecosystem services for ecotourism in Kapuas Hulu West Kalimantan, and ecosystem services for biodiversity conservation and carbon sequestration and storage in East Kalimantan.
 
From 2012 to 2015, WWF-Indonesia, Kyoto University, and a partner timber company also have developed a study to assess ecosystem conditions through forest carbon measurements and wildlife monitoring within the concession area. The study recommended a need for capacity building for field staff to monitor the measurement and calculation of biomass (carbon) as well as mentoring the preparation of ecosystem service claim documents.
 
Furthermore, the recommendations are also used as a basis and evidence that responsible forest management can improve or generate ecosystem services. On May 2017, SGS Qualifor Certification Agency assessed a partner timber company to measure the ecosystem service for biodiversity conservation and carbon sequestration and storage that covers 84.850 ha.
 
Angga Prathama Putra, Responsible Forest National Coordinator, WWF-Indonesia also revealed that FSC certification gives assurance that the forest is being managed in a way that preserves the natural ecosystem and benefits the lives of local people. “If those impacts can be demonstrated and verified, they will be recognized by the community and valued by the market," continued Angga.
 
This activity was also supported by Toyota Motor Corporation through its "Living Asian Forest Project" which is a series of activities dedicated toward biodiversity conservation in Southeast Asia and to raise the awareness of the public on environmental issues.
 
Penerapan pengelolaan hutan yang bertanggung jawab melalui pendekatan sertifikasi FSC (Forest Stewardship Council).
Penerapan pengelolaan hutan yang bertanggung jawab melalui pendekatan sertifikasi FSC (Forest Stewardship Council).
© WWF/Simon Rawles Enlarge
-
-
© WWF/Simon Rawles Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus