Polemik Nelayan Inanwatan, Sorong Selatan | WWF Indonesia

Polemik Nelayan Inanwatan, Sorong Selatan



Posted on 31 January 2019   |  
Nelayan udang di Inanwatan, Sorong Selatan bersiap untuk melakukan penangkapan udang
© USAID SEA Project/Vava Fatchurochman
Oleh: Vava Fatchurochman/Fisheries Enumerator West Papua WWF-Indonesia
 

Distrik Inanwatan termasuk dalam wilayah Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat yang memiliki luas daerah 960,54 km2 dengan jumlah penduduk 3.365 jiwa (Badan Pusat Statistik/BPS) Kabupaten Sorong Selatan tahun 2016). Mata pencaharian utamanya sebagai nelayan dengan hasil tangkapan utama berupa Udang Banana (Penaeus merguiensis) dan Udang Tiger (Penaeus monodon). Potensi udang yang cukup melimpah ini karena wilayah Inanwatan masih memiliki ekosistem mangrove dan terjaga dengan baik.

Dalam melakukan penangkapan, nelayan Inanwatan masih menggunakan alat tradisional seperti perahu yang biasa dikenal dengan nama katinting, dengan kapasitas mesin 5,5 PK. Sebagian nelayan menggunakan longboat  yang berbahan dasar serat fiber maupun kayu. Serta ada juga yang masih menggunakan dayung maupun layar. Alat tangkap yang digunakan sehari-hari adalah jaring atau biasa disebut trammel net (jaring tiga lapis) dengan mesh size 1-2 inci. Teridentifikasi jumlah tangkapan total  udang beragam mulai dari 0,1 ons sampai + 40 kg dalam sekali penangkapan, sedangkan aktifitas penangkapannya hanya setengah hari saja dari jam 05.00-18.00 WIT.

Area penangkapan udang nelayan Inanwatan tidak terlalu jauh, hanya di sekitar pesisir dan sungai-sungai hingga muara, kurang lebih jaraknya 1-5 mil dari daratan. Hal ini dikarenakan faktor armada perikanan tangkap yang masih bersifat tradisional, hasil tangkapannya pun sangat bergantung pada kondisi cuaca. Apabila musim angin kencang dan ombak besar biasanya nelayan tidak melaut, sedangkan yang memilih untuk melaut resikonya​​ hasil tangkapan sangat sedikit. Harga udang di Distrik Inanwatan adalah Rp 60.000 dengan kondisi lepas kepala (headless) dan dicampur antara udang banana ​dan udang tiger tanpa dilakukan pemisahan ukuran (size). Biasanya udang ini mereka jual ke pengepul yang datang dari Kota Sorong mengginakan armada jolor dan berlabuh di pelabuhan Distrik Inanwatan.

Hasil pengamatan tim enumerator perikanan WWF-Indonesia sebagai mitra pelaksana Proyek USAID Sustainable Ecosystems Advanced (USAID SEA Project), menunjukan adanya permasalahan di lingkup nelayan. Permasalahan utama adalah kurangnya keterampilan nelayan Inanwatan untuk memperbaiki maupun membuat jaring dan kurangnya kemampuan nelayan dalam mengelola keuangan.

Meskipun jaring yang digunakan telah rusak ditandai dengan adanya sobekan pada bagian jaringnya, mereka tetap menggunakannya, akibatnya hasil yang ditangkap kurang optimal. Jika sudah tak layak pakai, sebagian besar nelayan sering kali membeli jaring, dan ironisnya jaring yang mampu mereka beli kebanyakan adalah jaring bekas dari nelayan wilayah lain.

“Saya membawakan jaring bekas dari wilayah lain karena nelayan di Inanwatan meminta itu. Pembayarannya bisa dengan cara memotong uang dari hasil penimbangan udang mereka sampai akhirnya nanti lunas” ujar Bapak Ali, pengepul udang dari sorong yang sudah puluhan tahun melakukan pembelian udang di Distrik Inanwatan. Jadi mereka membayar jaring tersebut dengan cara mencicil dari uang hasil penimbangan mereka, misal mereka mendapat uang Rp 60.000 lalu uang tersebut dipotong sebesar Rp 10.000 untuk membayar jaring, begitu seterusnya sampai lunas.

Kebiasaan menghabiskan hasil penjualan udang dalam satu hari membuat nelayan Inanwatan tidak terbiasa menabung. Padahal tangkapan udang belum tentu ada di hari selanjutnya. Ketika datang musim tangkapan udang, contohnya pada bulan Februari 2018,  hasil rata – rata  tangkapan udang nelayan Inanwatan mencapai 3.039,5 kg, sedangkan pada musim paceklik terjadi pada bulan november dengan hasil rata-rata 90,1 kg. Pada musim puncak, para nelayan bisa mendapat pemasukan satu hingga dua juta rupiah per harinya. Namun ketika bukan musim tangkapan, nilai yang didapatkan hanya sekitar Rp 50.000/hari, bahkan bisa kurang alias minus.

Makanan pokok masyarakat di Inanwatan adalah papeda yang terbuat dari sagu ditambah dengan ikan hasil menjaring, selain itu mereka juga gemar makan mie instan dan telur. Mereka menjual udang tetapi tidak menyisakan udang untuk lauk mereka makan. Mereka menjual semua udangnya kemudian mereka membeli telur dan mie instan dari kios, dimana gizinya lebih rendah dari udang maupun ikan yang mereka dapat.

Selama proses pendataan perikanan, tim WWF-Indonesia juga berusaha membantu mencari solusi untuk mendorongkan Program Perbaikan Perikanan (Fisheries Improvement Program/FIP) dengan menjalin kerja sama dengan perusahaan, pengepul dan bahkan nelayan-nelayan Sorong Selatan, dalam bentuk pengenalan sistem log book. Hal ini bertujuan untuk mencatat hasil tangkapan utama dan sampingan mereka. Sehingga dapat ditelusuri asal usul tangkapan, jenis dan jumlah tangkapan mereka dan dapat dijadikan acuan stok populasi ikan/udang dalam wilayah perairan penangkapan mereka. Hal ini bertujuan untuk mengumpulkan informasi awal terkait praktek perikanan tangkap sehingga dapat dilakukan perbaikan perikanan yang berkelanjutan.

Selama proses pendataan ini juga menghasilkan data-data terkait wilayah potensial spesies terancam punah berada, wilayah pemijahan ikan dan wilayah pembesaran ikan. Sehingga dengan mengacu data tersebut WWF-Indonesia dapat merekomendasikan kawasan konservasi perairan untuk perikanan yang berkelanjutan.

Nelayan udang di Inanwatan, Sorong Selatan bersiap untuk melakukan penangkapan udang
© USAID SEA Project/Vava Fatchurochman Enlarge
Hasil udang nelayan Inanwatan yang didaratkan di pengepul (jolor).
© USAID-SEA Project/ Vava Fatchurochman Enlarge
Proses Penimbangan Udang di Pengepul (Jolor) bapak Ali di Kampung Mate, Distrik Inanwatan.
© USAID-SEA Project/ Vava Fatchurochman Enlarge
Hasil udang dari nelayan Distrik Inanwatan ketika bukan musim udang.
© USAID-SEA Project/ Vava Fatchurochman Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus