Petualangan Menembus Belantara Bukit Barisan Selatan: Misi Penyelamatan Badak Sumatera | WWF Indonesia

Petualangan Menembus Belantara Bukit Barisan Selatan: Misi Penyelamatan Badak Sumatera



Posted on 22 January 2019   |  
Anggota tim survey WWF yang paling muda ini ditemani oleh Witdiantoro dan staf Balai Besar TNBBS serta Masyarakat Mitra Polhut.
© WWF-Indonesia
Oleh: Hijrah Nasir

Nurfadil bergegas. Ransel yang berada di punggungnya tampak kebesaran di tubuhnya yang kecil. Namun sama seperti perjalanan sebelum-sebelumnya, petualangan menembus belantara Bukit Barisan Selatan selalu memberinya energi baru. Terlebih karena perjalanan ini adalah untuk menunaikan misi penting menyelamatkan salah satu spesies paling terancam punah di bumi, Badak Sumatera.

Nurfadil tidak sendiri. Anggota tim survey WWF yang paling muda ini ditemani oleh Witdiantoro dan staf Balai Besar TNBBS serta Masyarakat Mitra Polhut. Mereka berenam lantas menaiki ojek motor yang akan menuju ke Talang Sarkum, lokasi terdekat untuk sampai di target pemasangan kamera jebak. Alat ini merupakan kamera yang dipasang untuk mengamati aktivitas satwa di hutan yang dilengkapi dengan sensor gerak dan sensor infra merah. Pemasangan kamera jebak merupakan salah satu metode yang digunakan oleh WWF untuk mencari keberadaan satwa langka itu selain metode okupansi, trajectory, dan survey DNA.

Nurfadil bersama timnya hanya salah satu dari 6 tim yang diterjunkan untuk mencari jejak keberadaan Badak Sumatera yang diperkirakan jumlah yang tersisa di Bukit Barisan Selatan kurang dari 15 individu. Populasi yang sangat kecil dengan habitat yang terfragmentasi karena pembukaan lahan perkebunan serta tingkat perburuan yang masih tinggi menjadi tantangan besar untuk menemukan jejak mereka.

Peralatan telah di tangan. Mereka akan beraktivitas di belantara BBS ini selama 12 hari dari tanggal 5 – 16 Desember 2018. Selain membawa kamera jebak, logistik, peralatan camp, alat navigasi, dan peta, buku data menjadi benda yang tidak boleh terlewatkan ketika melakukan survey ini. Buku data yang dibawa terbagi menjadi buku data pemasangan kamera jebak dan buku data SMART patrol. Dalam buku data kamera jebak, tim harus memasukkan informasi seperti tanggal dan waktu pemasangan, koordinat, tipe habitat, ketinggian, arah dan lokasi pemasangan, anggota tim yang terlibat, serta tipe temuan baik temuan satwa maupun temuan kegiatan ilegal manusia. Tak lupa di akhir pemasangan tim melakukan tagging yang menandai bahwa mereka benar melakukan pemasangan kamera di lokasi tersebut. Selanjutnya ada buku data SMART patrol. SMART atau Spatial Monitoring and Reporting Tool adalah  merupakan  sebuah  tool  baru  yang  dikembangkan untuk  mengukur,  mengevaluasi,  dan  meningkatkan  efektivitas  pemantauan  dan  aktivitas  konservasi berbasis lokasi. Dalam buku data ini, tim harus mencatat wilayah kerja, koordinat, tanggal dan waktu pengambilan, hasil temuan tanda satwa maupun aktivitas ilegal manusia, serta mendokumentasikan temuan.

Pagi hari, tim bergegas menuju ke grid target. Lokasi pemasangan untuk tim Nurfadil kali ini berada di Resort Suoh. Salah satu dari 7 resort di TNBBS yang merupakan wilayah IPZ (Intensive Protection Zone). IPZ sendiri adalah wilayah di bagian tengah Taman Nasional Bukit Barisan Selatan seluas 100.000 Ha yang didesain sebagai area perlindungan intensif untuk Badak Sumatera. Namun pagi itu langkah tim harus berhenti karena di tengah perjalanan hujan deras mengguyur mereka. Meskipun itu bukan hal baru bagi mereka mengingat BBS memang dikenal sebagai hutan dengan curah hujan yang sangat tinggi yaitu antara 3.000 – 3.500 mm pertahun dimana proporsi musim hujan lebih besar daripada musim kemarau. Mereka akhirnya memutuskan untuk membuat camp di pematang sambil menunggu hujan reda. Musim penghujan seperti ini memang sedikit menyulitkan bagi tim. Selain karena tim harus berhenti berkali-kali untuk menghindari guyuran hujan lebat, ada kesulitan untuk memperoleh temuan tapak dan kotoran satwa karena terbawa air hujan.

Di perjalanan, tim menemukan bekas pancang pulut yang dipasang untuk menangkap burung. Praktek perburuan burung sangat umum di Resort Suoh. Wilayah ini merupakan salah satu resort dengan angka temuan perburuan satwa paling tinggi di TNBBS dan merupakan salah satu lokasi jalur keluar hasil perburunan burung. Berbagai jenis burung, trenggiling, bahkan harimau diselundupkan untuk memenuhi permintaan akan satwa yang cukup besar.

Witdiantoro mengamati peta di tangannya. Perjalanan menuju grid target masih jauh sementara hujan masih betah mengguyur mereka. Tidak mungkin melakukan pemasangan kamera jebak hari ini. Akhirnya diputuskan sore ini mereka akan membuat camp di pematang. Keesokan harinya tim bergegas menuju lokasi pemasangan.

Cuaca pagi itu cerah. Matahari keemasan menyembul dari balik pohon. Suara satwa terdengar sayup-sayup dari kejauhan. Hari itu tim berhasil melakukan pemasangan 2 kamera jebak dari 16 total kamera yang akan dipasang. Karena kamera ini diproyeksikan untuk menangkap potret clip vidio badak sumatera, maka ketinggiannya diatur 120 – 150 cm dari permukaan tanah dan dipasang pada jalur lintasan badak. Setiap kamera jebak yang dibawa dilengkapi dengan kotak pengaman dan tali baja (seling) lengkap dengan penguncinya, kemudian ada baterai AA alkaline sebanyah 12 buah untuk setiap 1 kamera, dan kartu penyimpanan file. Kamera pun diatur dengan format video berdurasi 30 detik dan interval antar video 3 detik. Setelah pemasangan dilakukan, anggota tim lalu mengisi buku data untuk mencatat informasi yang dibutuhkan.

Di tengah perjalanan, tim kembali menemukan bekas pancang burung di jalur pematang aktif. Selama 12 hari, tim berhasil memasang 16 kamera dan mendokumentasikan temuan satwa diantaranya kotoran, tapak, dan bekas pakan tapir, kotoran rangkong, tapak kijang, tapak dan kotoran rusa, serta kubangan satwa. Tanda-tanda keberadaan spesies terancam punah lainnya seperti kotoran harimau dan gajah masih ditemukan. Namun diperkirakan sudah berusia cukup lama. Deretan tanda perburuan satwa acapkali mewarnai perjalanan, baik berupa jerat maupun tanda yang dituliskan di batang pohon. Tingginya aktivitas ilegal di dalam kawasan ini menjadi ancaman besar bagi keberadaan satwa terancam punah, termasuk badak sumatera. Perjalanan tim kali ini di Resort Souh tidak menemukan temuan tanda-tanda keberadaan satwa ini. Mungkin karena tingginya aktivitas manusia. Sifat badak yang pemalu dan cenderung menghindari manusia membuat keberadaan mereka di alam semakin tersisih. Diperkirakan mereka sengaja bersembunyi, mencari wilayah yang terjal dan curam. Sehingga pekerjaan mencari badak bukanlah perjalanan yang mudah.

Setelah berhari-hari menyusuri hutan hujan yang lembab dan tertutup kanopi tebal, rasa lelah mulai menghampiri. Namun selalu ada hal menarik yang mampu mengusir rasa bosan dan penat. Pagi itu, canda tawa anggota tim memecah kesunyian. Dari balik tajuk pohon yang tinggi, suara rangkong terdengar jelas. Burung indah yang paruhnya banyak diperdagangkan ini juga mengalami ancaman yang sama - jumlahnya menurun dari tahun ke tahun karena perburuan. Padahal burung yang dijuluki petani hutan ini, memiliki kemampuan untuk menebar biji hingga 100 kilometer sehingga satwa ini dianggap sangat berjasa pada proses regenerasi hutan.

Selain topografi perbukitan tinggi dan tutupan kanopi yang lebat, beberapa lokasi hutan ini juga didominasi oleh vegetasi rotan yang cukup luas. Suatu hari, tim berada di antara rumpun rotan (Calamus sp.) yang rapat seluas kurang lebih satu hektar. Tumbuhan yang sambung menyambung dan berduri ini cukup menyulitkan untuk dilewati. Selain itu, kondisi serasah yang cukup tebal juga seringkali menjadi hambatan karena tim sulit menemukan tanda satwa.

Dua belas hari melelahkan itu terbayar dengan pemandangan di sepanjang jalan. Satwa yang silih berganti menampakkan diri, sungai yang mengalirkan air bening yang menentramkan hati, makanan sederhana yang selalu enak jika dimakan di tengah hutan, atau canda tawa dari kawan seperjuangan yang mampu menjadi obat rindu. Dan hari itu tim kembali dengan senyum sumringah. Salah satu perjalanan membawa misi penyelamatan badak sumatera telah terlaksana, namun tugas-tugas baru masih menunggu mereka. Setelah berjibaku dengan aktivitas lapangan, tim masih harus membuat laporan. Buku data yang mereka kumpulkan akan dimasukkan ke dalam database SMART untuk selanjutnya dilakukan analisis.

Mereka pulang membawa harapan. Harapan bahwa kamera jebak yang mereka pasang berhasil menangkap badak sumatera. Satwa kharismatik yang entah sampai kapan mampu bertahan di alam, di tengah ancaman perburuan, kerusakan habitat, dan in-breeding. Namun harapan besar itu selalu ada. Pekerjaan di lapangan tentu harus dibarengi oleh penguatan regulasi dan strategi di level para pembuat kebijakan. Di tahun 2018 lalu, Dirjen KSDAE menunjuk Tim penyusun Emergency Action Plan (EAP) badak sumatera 2018 – 2021. Tim yang terdiri dari KLHK, Rhino Joint-Secretariat, dan NGOs termasuk WWF menyepakati rencana aksi peningkatan populasi Badak Sumatera melalui captive breeding. Skenario dari strategi ini adalah penangkapan individu badak yang tersisa di TNBBS untuk ditranslokasi ke Suaka Rhino Sumatera (SRS) yang berada di TN Way Kambas. Diharapkan upaya relokasi ini mampu menjadi solusi untuk mempertemukan badak yang tersisa sehingga mampu menghasilkan keturunan yang bisa menjadi harapan baru bagi keberlangsungan generasi Badak Sumatera di alam.

 
Anggota tim survey WWF yang paling muda ini ditemani oleh Witdiantoro dan staf Balai Besar TNBBS serta Masyarakat Mitra Polhut.
© WWF-Indonesia Enlarge
Nurfadil bersama timnya hanya salah satu dari 6 tim yang diterjunkan untuk mencari jejak keberadaan badak sumatera yang diperkirakan jumlah yang tersisa di Bukit Barisan Selatan kurang dari 15 individu.
© WWF-Indonesia Enlarge
Pemasangan kamera jebak. Alat ini merupakan kamera yang dipasang untuk mengamati aktivitas satwa di hutan yang dilengkapi dengan sensor gerak dan sensor infra merah.
© WWF-Indonesia Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus