Mempawah Mangrove Festival 2018, Jadi Ajang Edukasi Selamatkan “PERISAI HIJAU” Kalbar | WWF Indonesia

Mempawah Mangrove Festival 2018, Jadi Ajang Edukasi Selamatkan “PERISAI HIJAU” Kalbar



Posted on 27 August 2018   |  
Bukit Peninjau, Kalimantan Barat
© WWF-Indonesia/Ismu Widjaya
MEMPAWAH – Kelompok masyarakat yang bergerak di bidang konservasi mangrove, Mempawah Mangrove Conservation (MMC), mengadakan Mempawah Mangrove Festival (MMF) 2018. Kegiatan ini dilaksanakan dari tanggal 25 hingga 28 Agustus, bertempat di kawasan Mempawah Mangrove Park (MMP), Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.

MMF dihelat untuk menggaungkan lebih luas tentang penyelamatan hutan mangrove ke berbagai lini, serta sebagai ajang edukasi dan kampanye kesadaran lingkungan wilayah pesisir. MMF diharapkan dapat menjadi wadah bagi berbagai komunitas dan para pihak yang peduli akan lingkungan, khususnya mangrove, untuk berkumpul dan berbagi pengetahuan dan pengalaman, yang dimulai oleh Kelompok SPM (Surya Perdana Mandiri) di tahun 2009. Selain itu, ajang ini juga digunakan sebagai ajang promosi Pariwisata Kabupaten Mempawah yang menjadi bagian dalam inisiasi kawasan “Perisai Hijau” Pesisir Utara Kalimantan Barat, sepanjang 193 km membentang dari Kota Pontianak sampai ke penghujung perbatasan Paloh, Kabupaten Sambas. 

Istilah “Perisai Hijau” ini juga merupakan sebuah gerakan bersama dalam melakukan penanaman kembali di lokasi-lokasi rawan abrasi serta melakukan peningkatan kapasitas kelompok lokal dalam pengembangan kawasan menjadi pusat edukasi dan ekowisata berbasis mengrove yang dapat memberikan dampak ekonomi langsung ke masyarakat sekitar kawasan. Inisiasi ini bermula pada kegiatan penanaman mangrove di Desa Karimunting pada tahun 2009, hingga akhirnya menyebar di banyak lokasi, termasuk MMP dan Kawasan Mangrove Setapuk Besar, yang dikelola Kelompok Surya Perdana Mandiri, Singkawang. 

Pembukaan MMF dilaksanakan pada 25 Agustus 2018, di halaman Makam Pahlawan Mempawah, yang dihadiri berbagai pihak dari jaringan penggiat mangrove pesisir utara. Diantaranya Pemerintah Kabupaten Mempawah, BPSPL Pontianak, Dispapora Kalbar, FOSSI, Bank BRI, Bank Indonesia, Indofood, WWF-Indonesia, kelompok SPM, kelompok ibu-ibu penggiat mangrove dari Bakau Besar, Pokmas Pelesir Sengkubang,Universitas Nahdlatul Ulama, Universitas Tanjungpura dan berbagai komunitas penggiat mangrove di Pesisir Utara Kalbar. 
 
Selain itu, dalam rangkaian MMF ini juga diisi kegiatan Joint Summer Program (JSP), berkolaborasi dengan International Office Universitas Tanjungpura. JSP melibatkan mahasiswa dari berbagai negara, seperti National Taitung University (Taiwan), Universitas Brunei Darussalam, Kochi University (Jepang), Universiti Malaysia Sarawak, Universiti Putra Malaysia, Universitas Tanjungpura, Politeknik Negeri Pontianak dan Universitas Muhammadyah Pontianak. 

Dalam sambutannya, Ketua MMC, Raja Fajar Azansyah, menyampaikan rasa terimakasih kepada semua pihak yang sudah mendukung kesuksesan pelaksanaan MMF 2018, serta harapannya akan upaya pelestarian mangrove di pesisir utara “Semoga perisai hijau yang dapat melindungi kawasan pesisir utara Kalbar dapat semakin meluas, dan kesadaran semua pihak dalam pelestarian dan penyelamatan mangrove turut meningkat. Sehingga apa yang kita cita-citakan, ekosistem mangrove di pesisir utara sebagai penunjang kehidupan masyarakat dapat tercapai,” ucapnya.

Selepas pembukaan, dilanjutkan dengan sarasehan antar mahasiswa bersama Forum Penggiat Mangrove Pesisir Utara di Rumah Baca MMP. Mengangkat tema diskusi seputar kegiatan restorasi mangrove yang telah dilakukan sejak tahun 2009 hingga saat ini. 

Program Manajer Kalimantan Barat, WWF Indonesia, Albertus Tjiu, dalam kesempatannya sebagai moderator sarasehan, memaparkan bagaimana upaya yang dilakukan WWF sejak tahun 2009 dalam menginisiasi Perisai Hijau Kalbar, dengan melibatkan kelompok mitra dan mendorong peran para pihak. 

“Secara perlahan, sejak penanaman digiatkan oleh banyak pihak, kawasan pesisir yang sudah rusak mulai kembali pulih, bahkan ada dua kelompok yang sudah dapat mengembangkan kawasan menjadi pusat edukasi dan ekowisata berbasis mangrove, yaitu MMC dan SPM. Hingga saat ini, lebih dari 200 ha kawasan pesisir utara Kalimantan Barat telah tertanami, dan gerakan ini akan terus dilanjutkan untuk mencapai Perisai Hijau Pesisir Utara Kalimantan Barat,” ujar Albertus.

Dihari kedua, 26 agustus 2018, dilanjutkan dengan penanaman mangrove yang melibatkan 300 peserta dari berbagai forum penggiat mangrove, siswa siswi di Kabupaten Mempawah, peserta JSP, komunitas Earth Hour Pontianak dan WWF. Sebanyak 5.000 bibit mangrove berhasil ditanam di sekitar kawasan MMP. 

Selanjutnya, rangkaian acara diisi dengan berbagai ragam perlombaan yang melibatkan masyarakat dan pelajar. Untuk lebih memeriahkan festival, MMC juga mengadakan pentas seni hiburan untuk pengunjung yang hadir selama acara. Panggung kecil dengan berbagai kreasi hiasan memanfaatkan bahan sisa dari alam semakin menyemarakkan MMF. 

Hari ketiga diisi dengan kegiatan bersih sampah di area hutan mangrove serta pemutaran film edukasi mengenai pentingnya habitat mangrove. Rangkaian kegiatan ini akan ditutup pada Selasa, 28 agustus 2018, di Kawasan MMP. Saat penutupan juga akan ada pembagian hadiah bagi para peserta pemenang lomba. 

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi:
Raja Fajar Azansyah (Ketua Mempawah Mangrove Conservation)
Hp. 089620929294 I Email: mmc_somf@yahoo.com 

Hendro Susanto (Marine Biodiversity Conservation Officer)
WWF-Indonesia Program Kalimantan Barat
Jl. Karna Sosial Gg. Wonoyoso II No. 3 - Pontianak
Hp. 085252108113 | Email: hsusanto@wwf.id
Bukit Peninjau, Kalimantan Barat
© WWF-Indonesia/Ismu Widjaya Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus