Senior Management Team | WWF Indonesia

Senior Management Team



Rizal Malik

 
	© WWF Indonesia
Rizal Malik
© WWF Indonesia

CEO Yayasan WWF-Indonesia


Rizal Malik menjabat sebagai CEO WWF-Indonesia efektif mulai 1 Agustus 2017. Ia bukan sosok asing bagi WWF-Indonesia karena sudah aktif berperan sebagai anggota Badan Pengurus Yayasan WWF-Indonesia sejak tahun 2002. Pengalaman dan keahliannya menorehkan warna tersendiri dalam proses penyusunan rencana strategis organisasi selama tiga periode.

Kini, dalam peran barunya sebagai CEO WWF-Indonesia, Rizal mendapat mandat untuk membawa WWF-Indonesia menjadi organisasi konservasi terdepan dalam upaya menjaga ekosistem dan keanekaragaman hayati Indonesia secara berkelanjutan dan berkeadilan, demi kesejahteraan generasi sekarang dan mendatang.

Pria kelahiran Padang, 12 Desember 1955 ini, memegang gelar master dari School of Development Studies di University of East Anglia, Inggris dan mengikuti kursus pasca-sarjana di Cornell University dan Massachusetts Institute of Technology, Amerika Serikat.

Jauh sebelumnya, Rizal pernah menjabat sebagai Assistant to Country Director dan Chief Executive Officer Transparency International Indonesia. Ia juga pernah menjabat sebagai Chief Operating Officer di Partnership for Governance Reform in Indonesia (Kemitraan untuk Reformasi Tata Pemerintahan di Indonesia) dan menjabat sebagai Program Country Manager Oxfam Britania Indonesia. Selain itu, Rizal pernah menjabat sebagai Penasihat Senior untuk kebijakan sosial di United Nations Support Facility for Indonesian Recovery, sebuah proyek kerja sama UNDP-Pemerintah RI untuk pengembangan kebijakan strategis penanganan krisis politik dan ekonomi jangka panjang di tahun 1998. Ia juga pernah menjadi penasihat the World Bank dan Asian Development Bank.

Keahlian Rizal terutama dalam isu tata kelola pemerintahan, pembangunan berkelanjutan dan antikorupsi. Rizal juga berpengalaman bekerja pada proyek-proyek yang didanai oleh berbagai lembaga donor dan pembangunan seperti USAID, CIDA, DFID, DANIDA, SDC dan GTZ/GIZ.


 

Arnold Sitompul

 
	© Arnold Sitompul
Arnold Sitompul
© Arnold Sitompul
Senior Advisor
Arnold Sitompul lahir di Medan 14 April 1971, memperoleh gelar BSc dalam Biologi dari Universitas Indonesia, Master dalam Management Wildlife & Conservation di University of Georgia, Amerika Serikat, dan PhD di bidang Pelestarian Lingkungan dari University of Massachusetts, Amerika Serikat. Ia juga mendapatkan pelatihan khusus untuk memperdalam Carbon Stock Assessment and Emission Inventory.

Arnold bergabung dengan WWF-Indonesia pada Agustus 2014 sebagai Direktur Konservasi, mengkoordinasikan Papua, Sumatra & Borneo, dan Coral Triangle, bersama dengan Direktur Policy & Advocacy. Sebelum WWF, Arnold menjabat sebagai Direktur Program di Yayasan KEHATI tahun 2002-2014 dan di Wildlife Conservation Society Indonesia tahun 1994-2002.

 

Wawan Ridwan

 
	© WWF Indonesia/ Des Syafrizal
Wawan Ridwan
© WWF Indonesia/ Des Syafrizal

Senior Advisor

Wawan Ridwan lahir di Garut pada tanggal 11 Desember 1957. Ia menamatkan pendidikan di Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor pada 1981.

Sebelum bergabung dengan WWF, Wawan Ridwan mengawali karir sebagai Pegawai Negeri Sipil di Ditjen Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam atau PHPA (kini Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem atau KSDAE) pada tahun 1981 sebagai staf perencanaan di TN Ujung Kulon. Kemudian menjadi Kepala Seksi Perencanaan Jangka Menengah PHPA tahun 1983. Sejak tahun 1987 hingga tahun 1999 berturut-turut ditugaskan sebagai Kepala TN Komodo, TN Kerinci Seblat dan TN Bromo Tengger Semeru. Pada tahun 1999 hingga 2001 merupakan akhir karirnya sebagai PNS di Department Kehutanan dengan posisi sebagai Direktur Wisata Alam pada Ditjen PHKA.

Wawan Ridwan bergabung dengan WWF-Indonesia sejak Mei 2001. Ia pernah memimpin beberapa proyek WWF-Indonesia di sejumlah lokasi penting antara lain sebagai Project Leader Joint Program WWF-The Nature Conservacy di Taman Nasional Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Project Leader WWF-ITTO di Taman Nasional Betung Kerihun, Kalimantan Barat, Project Manager Nature Research Management WWF-Indonesia Sundaland Bioregion tahun 2002.

Kemudian, pria yang hobi menyelam dan menikmati keindahan laut Indonesia ini menjabat sebagai Direktur Program Marine & Marine Species di WWF-Indonesia antara tahun 2007 s/d 2013. Selanjutnya ia menjabat sebagai Direktur Program Segitiga Terumbu Karang atau Coral Triangle.

 

Lukas Laksono Adhyakso

 
	© Dokumen Pribadi
Conservation Program Director
© Dokumen Pribadi

Director, Conservation Program


Lukas Laksono Adhyakso bergabung sebagai Direktur Program Konservasi WWF-Indonesia tanggal 1 September 2018. Pria kelahiran Yogyakarta, 05 November 1968 ini merintis karirnya sebagai Marine Program Officer WWF-Indonesia di Taman Nasional Teluk Cenderawasih, Papua pada awal 90-an. Kemudian Lukas melanjutkan studi S3-nya dan kembali ke WWF-Indonesia menjadi Direktur Program Toxic pada tahun 2002 – 2004.

Selanjutnya Lukas bergabung dengan Environment Unit UNDP pada tahun 2004. Dalam perjalanan karirnya di UNDP, Lukas dipromosikan sebagai Head of Planning, Monitoring and Evaluation (PME) Unit dari UNDP Indonesia. Selanjutnya Lukas bergabung dengan AUSAID (sekarang DFAT) dengan peran yang serupa hingga tahun 2014. Posisi terakahirnya sebelum kembali bergabung dengan WWF adalah sebagai Deputy Executive Director untuk program Millennium Challenge Account Indonesia (MCA-I), program 5 tahunan yang didanai oleh Amerika Serikat untuk menurunkan kemiskinan melalui pertumbuhan perekonomian lokal. Pada posisi ini, Lukas mengawasi grant sebesar 600 juta USD yang berasal dari Millennium Challenge Corporation.

Lukas memiliki gelar S-1 dalam Ilmu Hayat (Zoology), Master di bidang Environmental Technology dan Ph.D. di bidang Toxicology. Di waktu luangnya, Lukas merupakan seorang penyelam dan menikmati alam. Lukas akan membawa pengalamannya selama 25 tahun dalam bidang konservasi dan manajemen ini untuk WWF-Indonesia.


 

Aria Nagasastra

 
	© WWF Indonesia
Aria Nagasastra
© WWF Indonesia

Director, Finance and Administration


Aria Nagasastra bergabung dengan WWF-Indonesia sejak 2016 sebagai Direktur Finance and Administration dan bertanggung jawab langsung kepada CEO WWF-ID. Aria lahir di Palembang, 9 Desember 1967. Ia menyelesaikan Pendidikan Sarjana di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara pada 1995. Kemudian ia melanjutkan Pendidikan Pasca Sarjana Program Magister Manajemen dari IPMI Jakarta, Master of Business Administration dari International Business Monash University di Australia, dan Master of Philosophy dari Maastricht School of Management di Belanda.

Berbagai pengalaman di bidang finansial baik sektor profit maupun non-profit serta dunia pendidikan pernah dijalaninya. Ia tercatat pernah menjadi Chief Financial Officer pada PT MNC Investama dan Financial Controller pada PT Trakindo Utama. Sebelum bergabung dengan WWF, Aria menjabat sebagai Finance Director di PT Quality International dan Dosen Program S2 di Binus International Business School untuk Investment Management.

 

Apin Aviyan

 
	© WWF Indonesia
Apin Aviyan
© WWF Indonesia

Director, Human Capital and Legal

Apin Aviyan bergabung dengan WWF-Indonesia sejak 2016 sebagai Direktur Human Capital and Legal dan bertanggung jawab langsung kepada CEO WWF-ID. Apin lahir di Bandung, 15 Januari 1967. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana di Fakultas Psikologi Universitas Padjajaran Bandung pada 1992 dan menyelesaikan pendidikan pascasarjana juga di bidang psikologi pada 2002 di Universitas Indonesia.

Tahun 1993-2012, Apin menduduki berbagai posisi strategis di tingkat manajerial di kantor pusat maupun cabang pada PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk. Kompetensinya banyak dibangun pada bidang manajerial, sumber daya manusia dan psikologi. Apin tercatat memiliki sertifikasi di bidang pengelolaan dan manajemen risiko, Assesor Kompetensi SDM, Business Coach dan Strategy Execution. Sebelum bergabung dengan WWF-Indonesia, Apin menjabat sebagai Kepala Biro Sumber Daya Manusia di Komisi Pemberantasan Korupsi- Republik Indonesia (KPK-RI) hingga awal 2016.
 

Suhandri

 
	© Suhandri
Director, Sumatera and Wildlife Program
© Suhandri
Director, Sumatera and Wildlife Program
Suhandri mengawali karir di WWF-Indonesia sejak November 1999 sebagai manajer projek pada program yang bertujuan untuk mengintegrasikan keanekaragaman hayati dalam perencanaan pembangunan wilayah di Provinsi Papua. Program ini telah memperkaya pendekatan perencanaan pembangunan wilayah dan perencanaan kehutanan selama ini dengan pendekatan bio-region dan eco-region yang menyeimbangkan aspek lingkungan dan pembangunan.

Pria yang dilahirkan di Bukit Tinggi, 18 Mei 1967 ini menyelesaikan pendidikan sarjana di Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Institut Teknologi Bandung.

Untuk wilayah Sumatera, Suhandri pernah menjabat berbagai posisi di tingkat manajerial antara lain Riau Program Manager pada 2012-2014, Regional Leader pada 2014-2017, dan di tahun 2018 mulai mengampu posisi direktur dan bertanggung jawab kepada CEO.

Bidang yang menjadi tanggung jawabnya selama ini di antaranya adalah program perlindungan satwa kunci pulau Sumatera (Harimau, Gajah, Badak Sumatera), program transformasi komoditas yang berkelanjutan, dan penguatan pengelolaan Hasil Hutan Bukan Kayu/HHBK di sekitar kawasan konservasi. Dia juga terlibat dalam penyusunan prinsip dan kriteria nasional Roundtable Sustainable Palm Oil/RSPO baik untuk perusahaan besar maupun menengah/ kecil.

Benja V Mambai

 
	© WWF Indonesia/ Desmarita Murni
Benja V. Mambai
© WWF Indonesia/ Desmarita Murni

Director, Papua Program


Benja Victor Mambai menamatkan pendidikan di Universitas Cendrawasih, Jayapura Jurusan Matematika dan Fisika pada tahun 1990.  Kemudian melanjutkan pendidikan pada program pasca sarjana Fakultas MIPA-Universitas Indonesia, jurusan Biologi Konservasi dan selesai pada tahun 2002.

Benja Mambai bergabung dengan WWF Indonesia sejak tahun 1991. Karirnya dimulai dengan menjadi anggota tim peneliti keanekaragaman hayati di Cagar Alam Lorentz kerjasama WWF-Indonesia dan Asian Development Bank pada 1991-1992, hingga berlanjut menjadi Project Executant Taman Nasional Lorentz pada 1997 s/d 1999, dan kemudian menjadi Program Manajer Kebijakan dan Hukum WWF-Indonesia Regional Sahul pada tahun 2001.

Ia memiliki keahlian dibidang riset keanekaragaman hayati, perencanan pembangunan daerah, dan advokasi terkait pembangunan dan dampaknya bagi lingkungan.
Saat ini Benja Mambai menjabat sebagai Direktur Program Papua, membawahi sekitar 64 staff yang tersebar di tujuh kantor lapangan di Papua dan Papua Barat.
 

Irwan Gunawan

 
	© Irwan Gunawan/WWF-Indonesia
Irwan Gunawan, Direktur Program Kalimantan
© Irwan Gunawan/WWF-Indonesia
Director, Kalimantan Program
Irwan Gunawan mengawali karir di WWF-Indonesia sejak 2004 sebagai program officer Global Forest and Trade Network. Saat ini ia menjabat sebagai Direktur Program Kalimantan dan bertanggung jawab kepada CEO. Irwan Gunawan dilahirkan di Karawang pada 18 Februari 1975. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana di Jurusan Teknologi Hasil Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor pada 1999.
 
Sejak bergabung kembali dengan WWF-Indonesia pada tahun 2011, ia menduduki berbagai posisi strategis di tingkat manajerial di WWF-Indonesia. Tugas yang pernah diembannya antara lain kerjasama dengan sektor swasta dengan mengusung pengarusutamaan pendekatan transformatif dalam jaringan perdagangan komoditas yang berkelanjutan, terutama minyak sawit.

Sebelum bergabung kembali dengan WWF-Indonesia, pada periode 2009-2011, ia bekerja pada Rainforest Alliance sebagai Program Manager Kehutanan regional Asia Pasifik.  Sebelum tahun 2004, ia pernah bekerja di Lembaga Ekolabel Indonesia, JICA-Biodiversity Project dan Lembaga Alam Tropika Indonesia (LATIN).

 

Imam Musthofa

 
	© Dokumen Pribadi
Marine & Fisheries Program Director
© Dokumen Pribadi
Director, Marine & Fisheries
Imam Musthofa telah bekerja di program konservasi kelautan dan perikanan di Indonesia selama lebih dari 15 tahun. Ia mendirikan NGO konservasi kelautan bernama Yayasan TENNELA untuk mendukung Taman Laut Nasional Karimun Jawa pada tahun 1999. Kemudian Imam bergabung dengan WWF-Indonesia pada tahun 2001, yang dalam perjalanan kariernya telah memegang beberapa posisi dan tanggung jawab.

Posisi terakhir Imam adalah sebagai Sunda-Banda Seascape and Fisheries Leader. Dalam posisi itu Imam bertanggung jawab untuk memimpin program kelautan WWF-Indonesia di Sunda-Banda Seascape mengamankan keanekaragaman hayati laut melalui perlindungan ekosistem dan spesies laut kritis, dan mengurangi jejak ekologis di laut melalui reformasi di sektor bisnis dan pasar dalam bidang perikanan dan wisata bahari.

Dalam lima tahun terakhir, Pria kelahiran Ponorogo, 9 Oktober 1978 ini, bersama dengan timnya telah berhasil memfasilitasi penetapan Marine Protected Areas (MPAs) baru seluas lebih dari 1,5 juta hektar di Sunda-Banda Seascape, dan mendorong konsep “MPAs for Fisheries” di Indonesia. Ia juga telah berhasil menginisiasi dan mengembangkan platform business-to-business untuk sektor perikanan (Seafood Savers), dan sektor wisata bahari (Signing Blue) yang telah diakui oleh korporasi dan publik, baik di tingkat nasional maupun internasional. Imam merupakan mantan anggota Komisi Tuna Indonesia selama lebih dari 10 tahun, ko-inisiator kelompok kerja nasional untuk Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM), ko-inisiator Coral Triangle Fishers Forum, dan anggota delegasi Pemerintah Indonesia untuk pertemuan internasional seperti SSME, CTI, ASEAN, IOSE, dan APEC.

Imam memegang gelar Ph.D. di bidang Marine Conservation Biology dari Universitas Indonesia, dan telah menerbitkan lebih dari 15 karya ilmiah dalam bidang konservasi kelautan dan perikanan.

 

Aditya Bayunanda

 
	© Aditya Bayunanda/WWF-Indonesia
Direktur Policy, Sustainaibility and Transformation
© Aditya Bayunanda/WWF-Indonesia
Director, Policy, Sustainability, and Transformation
Aditya Bayunanda (Dito) bergabung dengan WWF-Indonesia sejak 2009. Saat ini Dito menjabat sebagai Direktur Policy & Advocacy (dari sebelumnya Policy, Sustainability and Transformation). Dito lahir di Yogyakarta, 31 Mei 1975, mempunyai latar belakang pendidikan Sarjana Kehutanan dari Universitas Gadjah Mada dan menyelesaikan Pendidikan Pascasarjana di Jurusan Manajemen Bisnis di Institut Pertanian Bogor.
 
Di WWF-Indonesia, Dito sebelumnya pernah mengemban berbagai posisi manajerial antara lain Global Forest Trade Network Indonesia Manager, Pulp and Paper Manager, HoB Thematic Leader for Sustainable Business dan Forest Based Commodities Strategic Leader. Selain identik dengan status aktifis lingkungan hidup dan terlibat sebagai anggota International Working Group di FSC dan HCSA, Dito menekuni bidang politik dan pemerintahan.
 
 

Elis Nurhayati

 
	© Elis Nurhayati
Direktur Komunikasi WWF-Indonesia
© Elis Nurhayati
Director, Communication
Elis Nurhayati bergabung sebagai Direktur Komunikasi WWF-Indonesia tanggal 1 Agustus 2018. Perempuan kelahiran Garut, 22 April 1978 ini memiliki perjalanan karir yang panjang dalam mengkomunikasikan isu konservasi, demokrasi, pembangunan berkelanjutan, dan antikorupsi selama hampir 20 tahun.

Elis menyelesaikan studi di Program Pasca Sarjana Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta dalam bidang Linguistik Terapan Bahasa Inggris. Saat ini Elis sedang menyelesaikan program master dalam bidang Bisnis dan Manajemen di PPM School of Management, Jakarta.

Sebelum bergabung di WWF-Indonesia, Elis adalah Kepala Protokol dan Multimedia Humas di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di mana salah satu perannya adalah membangun dukungan masyarakat terhadap misi institusi dan menjaga hubungan dengan para pemangku kepentingan antikorupsi. Ia pernah menjabat sebagai Communications & Marketing Director di The Nature Conservancy Indonesia Program dan menangani komunikasi/hubungan masyarakat di pelbagai organisasi lainnya seperti United States Agency for International Development/USAID-DAI di proyek Environmental Services Program, United Nations Development Programme/UNDP, konsultan untuk Rare Conservation, ICRAF, dan the World Bank.

 

Ade Swargo Mulyo

 
	© Dokumen Pribadi
Partnership Director
© Dokumen Pribadi
Director, Partnership
Ade Swargo Mulyo bergabung sebagai Direktur Partnership WWF Indonesia tanggal 1 September 2018. Sebelum bergabung dengan WWF-Indonesia, Ade merupakan Marketing and Communication Director di The Nature Conservancy (TNC) Indonesia hingga akhir Agustus 2018. Di bawah kepemimpinannya, TNC telah berhasil meningkatkan pendanaan domestic melalui strategi pemasaran inovatif, seperti Caused-Related Marketing (CRM), donasi online dan platform crowdfunding. Sebelum bergabung dengan TNC, Ade bekerja untuk UNDP Indonesia sebagai Head of Partnership yang bertanggung jawab untuk membina kemitraan dan memobilisasi sumber daya dari sektor swasta, philantrophies nasional dan internasional, serta donor bilateral. Ade telah berhasil menginisiasi alat pendanaan pembangunan yang inovatif dengan menyalurkan zakat hasil kolaborasi dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Ade Mulyo pernah bekerja di USAID-Forestry Program sebagai Private Sector-Trade-Forestry and Investment Lead, dan sebagai Project Manager untuk Swiss Technical Cooperation – SWISSCONTACT.

Sebelum terjun ke bidang pembangunan (development), Ade terlebih dahulu berkecimpung di sektor swasta dan industri perbankan. Ade memiliki gelar Master in Finance and Investment dari PPM Institute of Management, Jakarta dan Post-Graduate Diploma dalam Sustainable Development dari Centro Internazionale di Formazione, Turin, Italia. Ade merupakan anggota internal auditor tersertifikasi dari Florida Chapter, Amerika Serikat. Pria kelahiran Jakarta, 11 April 1968 menikmati alam dengan mengendarai sepeda gunung, dan seorang penikmat video games pada waktu luangnya.