Kenali Kekayaan Potensi Pariwisata Bahari Dusun Mekko, Flores Timur | WWF Indonesia

Kenali Kekayaan Potensi Pariwisata Bahari Dusun Mekko, Flores Timur



Posted on 17 November 2017   |  
Karang lunak dan ikan badut yang ditemua di lokasi penyelaman dan snorkling di dusun Mekko
© WWF-Indonesia/Ayu Ginanjar Syukur
Oleh: Tardi Sarwan (Responsible Marine Bussines Coordinator for Lesser Sunda)

Desa Pledo, Kecamatan Witihama, Kabupaten Flores Timur, dikenal dengan pulau pasir putihnya yang cantik. Pulau di salah satu enam gugusan pulau di Dusun Mekko, Desa Pledo ini memiliki tiga dusun lainnya yang terletak di Pulau Adonara. Pada awalnya, Dusun Mekko dikenal dengan nelayannya yang suka menangkap hiu sebelum adanya pelarangan penangkapan hiu di tingkat nasional.

Tetapi, kini nelayan Dusun Mekko sudah tidak lagi menangkap hiu dengan beralih menangkap jenis ikan lainnya, seperti ikan demersal atau ikan pelagis. Berdasarkan pendataan WWF-Indonesia tahun 2014, hiu yang berada di perairan Dusun Mekko didominasi oleh jenis blacktip reef shark (Carcharhinus  melanopterus)  atau Hiu Karang Sirip Hitam dan Hiu Sirip Putih atau whitetip reef shark (Triaenodon obesus).

Hasil penelitian WWF-Indonesia di Desa Pledo tahun 2014 menujukkan bahwa perairan Dusun Mekko diduga sebagai habitat penting anakan hiu yang perlu dikelola. WWF-Indonesia juga telah melakukan pendataan perjumpaan hiu dan tangkapan sampingan di Dusun Mekko. Berangkat dari hal tersebut, WWF-Indonesia mulai melakukan pendampingan terhadap kelompok masyarakat, Kelompok Bangkit Muda Mudi Mekko atau BM3.

BM3 merupakan kelompok yang memiliki konsentrasi di bidang kepariwisataan. WWF-Indonesia berupaya membantu BM3 dalam pengembangan kelembagaan, peningkatan kapasitas ekowisata, perencanaan pariwisata desa, pemasaran dan pengembangan produk wisata. Saat ini, kelompok BM3 sedang memulai dalam tahap peralihan dan pengembangan kelembagaan menuju peningkatan kapasitas ekowisata.

“Kelompok dibentuk awalnya hanya sekedar untuk menyalurkan hobi bermain sepak bola, maka dinamakan Bangkit Muda Mudi Mekko. Kata bangkit diambil sebab pada dasarnya kami orang Bajo sangat susah untuk berkelompok, sehingga diharapkan kata bangkit dapat membangkitkan semangat kelompok. Tetapi seiring jalannya waktu banyak turis yang berdatangan ke Mekko untuk berwisata, kenapa tidak kami mulai fokus juga mengembangkan Mekko ke arah pariwisata bertanggung jawab,” ungkap Ketua Kelompok, Pak Bakri

Pada tanggal 21-24 oktober lalu, WWF-Indonesia mencoba memfasilitasi kelompok BM3 untuk mulai mengidentifikasi potensi obyek daya tarik wisata serta sarana dan prasarana pendukungnya. Kegiatan yang telah berlangsung secara partisipatif tersebut tidak lupa melibatkan pihak nelayan, masyarakat desa, kelompok dan juga pihak perempuan di Dusun Mekko. Dari hasil kegiatan fasilitasi itu nantinya akan disusun beberapa peta dan juga kajian dokumen guna melanjutkan proses selanjutkan dalam peningkatan kapasitas ekowisata dan perencanaan tingkat desa.

Bantu Lestarikan Satwa Laut di Perairan Mekko, Yuk!
Selain bisa menemukan hiu di Dusun Mekko, kita juga bisa menemukan penyu hijau dan sisik di perairannya . Sayangnya, penyu-penyu itu juga kadang terlihat di pukat nelayan yang tidak sengaja tertangkap. Hal ini menujukkan bahwa perairan Dusun Mekko memiliki kelimpahan sumber daya perikanan. Tidak sedikit dari wisatawan yang melintas atau bermalam menggunakan kapal pesiar, yacth, dan Live on Board (LOB) memuji atas keindahannya. Biasanya kapal yang datang bermalam selama dua hari tersebut melakukan aktivitas wisata bahari di perairan Dusun Mekko, seperti bermain kano, jet ski, menyelam, snorkling, berenang serta berjemur di Pulau Pasir Putih.

Saat ini wisatawan sudah datang dengan sendirinya ke Dusun Mekko. Selain wisatawan asing, wisatawan lokal juga tidak mau kalah menikmati indahnya Pulau Pasir Putih. Kebanyakan dari mereka datang melalui jalur darat diantar oleh nelayan dan penduduk lokal ke Pulau Pasir Putih dengan dikenakan biaya 15.000/orang. Dengan semakin ramainya wisatawan yang hadir kami berharap pemerintah dapat membantu perbaikan sarana dan prasarana serta peningkatan kapasitas kelompok terkait aktivitas wisatanya.

Hal ini dikarenakan aktivitas pariwisata bertanggung jawab perlu dikembangkan masyarakat Dusun Mekko untuk melestarikan sumber daya alamnya, agar nelayan yang sudah melakukan peralihan dalam penggunaan alat tangkap ramah lingkungan dapat semakin merasakan manfaatnya. Kini wilayah laut Dusun Mekko juga sudah masuk dalam kawasan pemanfaatan pariwisata dalam rencanan Kawasan Konservasi Perairan Daerah yang tengah diajukan ke Kementrian Kelautan dan Perikanan untuk ditetapkan dan masuk dalam Rencana Kawasan Strategis Pariwisata Kabupaten Flores Timur.

Karang lunak dan ikan badut yang ditemua di lokasi penyelaman dan snorkling di dusun Mekko
© WWF-Indonesia/Ayu Ginanjar Syukur Enlarge
Dangkalan/taka lokasi anakan hiu berkumpul berada di dekat hutan mangrove
© Tardi Sarwan/WWF-Indonesia Enlarge
Pulau pasir putih yang berhadapan langsung dengan dusun Mekko dan 4 pulau lainna
© Tardi Sarwan/WWF-Indonesia Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus