Ramah Tamah Tuan Rumah Alor | WWF Indonesia

Ramah Tamah Tuan Rumah Alor



Posted on 26 March 2017   |  
Anak-anak yang bermain di dermaga Pelabuhan Dulionong, Kalabahi
© Mayawati Nur Halim / WWF-Indonesia
Oleh: Mayawati NH (MyTrip Magazine)

Usai snorkeling di dekat Pulau Ternate, Selat Pantar, pada hari pertama perjalanan #XPDCALORFLOTIM, saya melihat kapal kayu merapat di Kapal Menami kami. ‘Gadis Imut’, nama kapalnya. Dari atas kapal, mama-mama dari Desa Ternate, Pulau Ternate, menjajakan kain tenun ikat Alor buatan tangannya.
 
Karena kawasan ini memang masuk kawasan wisata, jadi  banyak warga lokal berjualan dari atas perahu, merapat ke kapal-kapal yang lewat. Peserta ekspedisi dan rekan jurnalis yang ikut dalam perjalanan hari pertama ekspedisi tergoda membeli kain-kain tenunan tangan dengan pewarna dari bahan alami ini. Kain yang besar ada yang dihargai Rp400 ribu, yang kecil ada yang Rp50 ribu.
 
Saat sudah berada nun jauh di ujung timur Pulau Alor, kapal kami juga didekati perahu kayu nelayan. Ternyata mereka adalah nelayan dari Pulau Buaya yang ingin menukar solar dengan ikan-ikan tangkapan mereka. Sekitar enam ekor ikan jenisnya sweetlip, naso, angel fish, barakuda yang dibarter dengan 36 liter solar.
 
Barter dilakukan menggunakan bahasa lokal yang kami tidak mengerti. sehingga kami hanya menonton dan memotret. Derta (Reef Check Indonesia), salah satu anggota tim, sempat ragu, “mereka bisa bahasa Indonesia, nggak, ya?”. Saya menjawab dengan yakin “pasti bisa!” dan kami membuktikannya. Itulah hebatnya bangsa kita ini, dari ujung barat ke ujung timur, sampai pelosok mana pun, mayoritas penduduknya bisa berbahasa Indonesia, kecuali orang yang sudah sangat sepuh.
 
Bahkan yang saya dengar dari kru kapal, saking banyaknya bahasa daerah di Pulau Alor, mereka berkomunikasi dengan orang dari suku lain dengan Bahasa Indonesia. Ya, Bahasa Indonesia jadi bahasa pemersatu mereka.
 
Para nelayan dari Pulau Buaya menangkap ikan hingga jauh ke timur, lalu membawa dan menjual hasil tangkapannya ke Timor Leste. Kata nelayan, ikan yang dijual di Timor Leste lebih harga mahalnya.
 
Keramahan tuan rumah Alor juga kami jumpai di Desa Maritaing, tempat kapal kami bersandar di hari kedua perjalanan. Seperti hukum alam di dermaga, kenal tidak kenal, warga membantu kami merapatkan badan Menami ke pelabuhan.
 
Keesokan harinya saat kami hendak meninggalkan desa, kami ‘dilepas’ oleh serombongan anak-anak berseragam  SD yang dengan semangat melambai-lambaikan tangan kepada kami.
 
Sayang, di Desa Maritaing, tidak terlihat bocah-bocah lokal yang bermain dengan melompat ke air dari dermaga. Aksi bocah-bocah main lompat-lompatan ke air sempat saya saksikan waktu Kapal Menami masih sandar di Kalabahi, Ibukota Kabupaten Alor. Seru sekali menonton bocah-bocah itu berebutan naik ke kapal kayu kecil yang sedang sandar lalu melompat ke air dengan beragam gaya. Ada juga sebagian yang melompat ke air dari dermaga yang cukup tinggi. Atraksi yang selalu menjadi hiburan tersendiri bagi saya.

Anak-anak yang bermain di dermaga Pelabuhan Dulionong, Kalabahi
© Mayawati Nur Halim / WWF-Indonesia Enlarge
Bersantai di Dermaga Maritaing, Alor Timur
© Mayawati Nur Halim / WWF-Indonesia Enlarge
Gadis Imut, kapal penjaja kain tenun dari Desa Ternate, Alor
© Mayawati Nur Halim / WWF-Indonesia Enlarge
Kapal nelayan dari Pulau Buaya yang menukar ikan dengan bahan bakar
© Mayawati Nur Halim / WWF-Indonesia Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus