50 tahun WWF di Indonesia | WWF Indonesia

50 tahun WWF di Indonesia



World Wide Fund for Nature (WWF) mulai bekerja di Indonesia sebagai kantor program dari WWF Internasional di awal tahun 1961, di bawah pengawasan Kementrian Kehutanan.
Pada tahap awal ini aktivitas utama WWF adalah berupa penelitian dan survei terhadap spesies mamalia, terutama  Badak dan Harimau di pulau Jawa dan Sumatra, dimana kedua hewan tersebut termasuk binatang yang terancam punah.

WWF-Indonesia mendapatkan entitas legal di Indonesia, dan kemudian didaftarkan sebagai yayasan, di tahun 1996. Dengan status hukum yang baru, dan adanya status kantor nasional dari WWF Internasional, maka WWF-Indonesia membentuk  dewan komisaris tersendiri, dan mendapatkan lebih banyak fleksibilitas didalam pengumpulan dana dan pengembangan program di seluruh wilayah Indonesia.
 
Pada bulan April 1998, Kantor program WWF-Internasional di Indonesia bertransformasi menjadi WWF-Indonesia, dan telah sah secara hukum sebagai organisasi nasional dengan status yayasan.
 
Hingga 2004, WWF-Indonesia telah membantu pemerintah didalam pembentukan berbagai area konservasi hutan, termasuk Taman Nasional Wasur, Taman Nasional Lorentz, dan Cagar Alam Arfak Strict di Papua; Taman Nasional Kayan Mentarang dan Betung Kerihun di Kalimantan;  Taman Nasional Bukti Tigapuluh di Sumatra. Didalam pengembangan rencana pengelolaan untuk area-area tersebut, WWF mengutamakan  perlunya peranan dari komunitas lokal didalam pengelolaan cagar alam dan mendorong pengakuan yang sah secara hukum untuk akses bagi hak adat dan pemanfaatan cagar alam  untuk mata pencaharian bagi komunitas lokal atau masyarakat sekitar kawasan lindung, tanpa merusak kawasan tersebut.
 
WWF-Indonesia juga telah memfasilitasi dan mendukung pembangunan ekonomi alternatif berkelanjutan bagi komunitas lokal . Hal ini juga telah dilaksanakan  di Aru Tenggara, Maluku, Takabone Rate dan Taman Laut Bunaken di Sulawesi,  serta Taman Nasional Cendrawasih di Papua. Pada saat ini, WWF-Indonesia terus berupaya didalam peningkatan kapasitas didalam penerapan pengelolaan area konservasi yang lebih baik.
  
	© WWF-Indonesia
© WWF-Indonesia
 
	© WWF-Indonesia / Aulia RAHMAN
Perempuan bajo memiliki peran penting dalam struktur masyarakat tersebut. Banyak kepercayaan masyarakat bajo yang masih dipegang teguh dalam pengelolaan perikanan dalam masyarakat mereka.
© WWF-Indonesia / Aulia RAHMAN